Senin, 09 Januari 2012

Kritik Sastra Dunia


SEJARAH PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN KRITIK SASTRA BARAT

A.  SEJARAH PERTUMBUHAN KRITIK SASTRA
1.      KRITIK SASTRA DI YUNANI
Sejarah munculnya istilah ‘kritik sastra’ (dunia/Barat)) awal pertama kalinya dipelopori oleh tiga orang tokoh besar asal negeri Yunani. Ketiga tokoh besar tersebut antara lain adalah Plato, Aristoteles, dan Longinus.
a.      Kritik Sastra Plato (427—347 SM)
Plato adalah salah satu tokoh atau orang pertama yang memperkenalkan istilah kritik sastra di dalam kaitannya dengan ilmu sastra. Berbekal dari ilmu filsafat yang banyak ia pelajari dari gurunya Sokrates (465—399 SM), sekitar tahun 387 ia mendirikan sekolah tinggi yang terkenal di Atena. Sekolah tinggi itu diberi nama Akademi. Di sekolah tinggi itulah Plato mulai mengajar dan mengembangkan kritik sastra. Salah satu karya bukunya yang terkenal adalah buku yang berjudul “Republik”, buku yang membahas tentang pandangan pembaca (kritik) tentang karya sastra puisi. Di dalam kaitannya dengan istilah kritik sastra, pandangan atau konsep yang disuguhkan Plato adalah pandangan atau konsep tentang ilmu mimetik (tiruan) yang menghendaki agar karya sastra (puisi) dapat berisikan ajaran-ajaran moral (bermanfaat; dulce).

Konsep Mimetik (tiruan) Plato:
Seniman (sastrawan) tidak akan mampu meniru realita, karena realita yang ditiru oleh seniman (sastrawan) hanyalah realita berdasarkan persepsi seniman (kepentingan tentang kepercayaan, ideology, dan lain-lain). Akan tetapi, bukanlah realita dalam arti yang sebenarnya—[oleh karena itu karya seni adalah palsu, tidak bermanfaat, dan dapat menjerumuskan pembaca/penikmat seni].

Pandangan Plato—[Tentang Gaya Bahasa]—Kritik Sastra


(Sumber: Ikhtisar Kritik Sastra, 1970: 7)

Pandangan Plato bisa terlihat pada pernyataan Ignas Kliden, seorang budayawan dan sosiolog Indonesia dalam ulasannya di Film Dokumenter sastrawan Indonesia Umar Kayam. Ignas Kleden menyatakan bahwa di dalam penulisan karya sastra, kita (sebagai pembaca karya sastra) bisa melihat tiga hal di dalam karya sastra: Apakah pengarang yang bercerita? Apakah cerita yang bercerita? Atau apakah suasana yang bercerita? (lihat dokumenter Umar Kayam: Refleksi Kehidupan, 2004).







b.      Kritik Sastra Aristoteles (384—322 SM)
Tokoh pengembangan kritik sastra adalah Aristoteles yang juga berasal dari Yunani. Aristoteles adalah salah seorang murid yang membantah sekaligus mengembangkan konsep/pandangan gurunya sendiri, Plato.

Konsep Mimetik (tiruan) Aristoteles:
Seniman (sastrawan) memang tidak perlu meniru realita sebagaimana adanya—seniman (satrawan) meniru realita berdasarkan persepsi seniman sendiri, dan hebatnya karya seni (KS) yang diciptakan oleh seniman (satrawan) ditentukan oleh unsur (1) creatio (kreativitas dalam menciptakan fiksionalitas), dan (2) universalia (hal-hal yang universal/umum)—[yang member harapan baru—[memunyai efek bagi pembaca/penikmat seni].

Pandangan atau konsep tentang kritik sastra Aristoteles terangkum dalam buku karangannya yang berjudul “Ilmu Poetika”. Di dalam buku“Ilmu Poetika” itulah Aristoteles mengembangkan kajian teori mimetiknya menjadi beberapa pokok pembahasan, antara lain sebagai berikut.
1.      Teori Puisi
Ø  Dalam kaitannya dengan kritik, Aristoteles meninjau sebuah karya sastra (puisi) dari sudut hubungan puisi dengan manusia, misalnya tentang asal usul puisi. Pandangan konsep Aristoteles menyatakan bahwa sebuah karya sastra (puisi) terbentuk atau tercipta dari pembawaan lahir manusia (penulisnya sendiri). Dalam hal ini Aristoteles memunyai pemaknaan bahwa manusia senang meniru dan senang akan tiruan yang dilakukan oleh orang lain pula (pembawaan dari batin).
Ø  Aristoteles menyetujui pendapat Plato bahwa puisi tercipta berdasarkan tiruan (imitation). Akan tetapi, ia member arti yang baru terhadap istilah tiruan tersebut. Baginya, tiruan sudah bukan menjadi sebuah jiplakan lagi, melainkan tiruan adalah suatu penciptaan kreatif. Artinya, pengarang (sastrawan) meniru dengan mengambil ide dari fenomena kehidupan manusia dan menciptakannya menjadi sebuah sesuatu yang baru (karya).
Ø  Di dalam kaitannya dengan istilah kritik sastra, pandangan atau konsep yang disuguhkan Aristoteles adalah pandangan atau konsep tentang ilmu mimetik (tiruan) yang menghendaki agar karya sastra (puisi) yang tercipta (melalui penciptaan kreatif) memunyai fungsi utama, yakni member kesenangan untuk pembacanya (sesudah membaca kita menjadi merasa senang; utile).
2.      Teori Tragedi—[drama]—meniru dengan perbuatan (dipentaskan; mimetik)
3.      Teori Epos—meniru dengan penceritaan (narasi; mimetik)
4.      Teori Komedi—meniru dengan lelucon—[menjadi gila].

c.       Kritik Sastra Dionysius Cassius Longinus (210—273 M)
Ø  Kritik sastra terangkum dalam sebuah karya tulisnya (tesis) yang berjudul “Tentang Keagungan”. “Tentang Keagungan” memunyai pemaknaan bahwa karya sastra yang agung adalah karya sastra yang bisa memberikan perenungan, yang bisa menarik perhatian kita tanpa kemauan kita, yang meninggalkan suatu kesan yang tak terhapus dari sanubari kita sendiri. Artinya, sebuah karya sastra yang agung (bagus) adalah karya sastra yang bisa menyenangkan manusia sepanjang abad (abadi; kanon).
Ø  Dari konsep atau pandangan kecil itulah Longinus memaknai (menilai) sebuah karya sastra dari sudut pandang estetika (keindahan). Baginya, disamping karya sastra harus bermanfaat (dulce) dan memberi kesenangan (utile), penciptaan karya sastra harus bisa menimbulkan katarsis (perenungan, pembersihan, suci, dan bermanfaat).
Ø  Catatan: Longinus adalah kritikus yang mempelopori kritik STILISTIKA dan memperkenalkan ILMU ESTETIKA.

2.      Kritik Sastra di Romawi
Ada dua tokoh yang menjadi catatan sejarah dan perkembangan kritik sastra di Romawi, antara lain sebagai berikut.
a.       Quintus Horatius Placcus (65-8 SM)
Horatius adalah salah murid yang juga belajar di sekolah tinggi di Atena. Horatius tercatat sebagai seorang sastrawan yang banyak menghasilkan karya sastra yang berupa sajak-sajak remaja. Dari beberapa karyanya itulah Horatius menulis “Ilmu Poetika” (10-8).
“Ilmu Poetika” (De Arte Poetica”—[adalah surat-surat yang berbentuk puisi)

Sebuah Pernyataan Horatius:
Ø  Sumber dari karangan yang bagus adalah pemikiran yang betul. Pemikiran yang betul adalah kebijaksanaan. Artinya, pengarang harus tahu bagaimana seharusnya ia memilih tema serta gaya bahasa yang cocok (susuai)
Ø  (Puisi = lukisan                                 dipertaruhkan oleh jarak (waktu).
Artinya, kita bisa mengasumsikan lukisan yang kita lihat jelek dari titik atau jarak pandang yang dekat karena lukisan yang kita lihat sangat terlihat bagus dari jarak pandang jauh. Atau mungkin malah sebaliknya, kita bisa mengasumsikan lukisan itu tampak lebih bagus (indah) dari jarak yang dekat.
Ø  Horatius lebih menekankan pada kritik sastra yang mengacu pada penilaian aspek estetika stilistika terhadap karya sastra.

Pengaruh Horatius:
Pengaruh Horatius baru terlihat tampak pada perkembangan kritik sastra pada abad Renaissance. Bukti pengaruhnya adalah bahwa selera pembaca (kritikus) merupakan sebuah pertimbangan sastra yang dianggap paling penting (Mutiara-mutiara kata yang banyak diucapkan).

b.      Marcus Fabius Quintilanus (40-118 M)
Quintilanus dilahirkan di Calagurris Spanyol. Pendidikan hukum diperolehnya di Negara Roma. Sebuah karya tulisnya yang tercipta adalah “Pembinaan Ahli Pidato” (Institute Oratoria) yang ditulis dengan harapan agar bisa memberikan bimbingan bagi calon-calon ahli pidato (ber-retorika). “Pembinaan Ahli Pidato” adalah bukunya yang banyak berisi kebijaksanaan (retorik) yang diciptakannya sendiri.
Ø  Di dalam sejarah dan pertumbuhan kritik sastra Barat, ajaran Quintilanus lebih menekankan pada aspek penciptaan sendiri (framing) dan penciptaan yang kreatif (bukan sebuah wujud dari tiruan atau imitation).
Ø  Sejarah dan awal pertumbuhan kritik sastra Quintilanus dimulai dari sebuah telaah bahasa (stilistika) tentang penggunaan retorika bahasa.

B.  PERKEMBANGAN KRITIK SASTRA
1.      Kritik Sastra Abad Pertengahan (Abad 12—13)
Kritik sastra pada abad pertengahan pada dasarnya berkembang pada dua paruh waktu, antara lain
A.    PARUH PERTAMA
Ø  Perkembangan kritik sastra pada adab petengahan pada mulanya ditandai dengan adanya kekacauan politik yang disebabkan oleh runtuhnya kerajaan Romawi—yang pelahan-lahan akan pulih kembali.
Ø  Muncul dua paham/ajaran
a.       Ajaran Neo-Platonisme—‘chita’ (ide)
b.      Ajaran nasrani
Ø  Tokoh atau pelopor Neo-Platonisme adalah Plotinus (204-207 M)—[seorang filusuf dari Mesir].
Perkembangan kritik sastra ditandai dengan pengembangan ulang teori ‘chita’ (ide) yang sebelumnya diciptakan oleh Plato—[Tuhan dan ‘chita’ adalah dua hal yang terpisah].

Ø  Tokoh atau pelopor ajaran Nasrani ada dua, yaitu:
a.       St. Fransiskus (1182-1226)—simpati terhadap dan menyebut matahari “Saudara Surya”
b.      St. Aquinus (1227-1274)—tiruan adalah sebuah bentuk estetika Tuhan dan sebuah wujud dari retorika.

B.     PARUH KEDUA
Ø  Ditandai dengan munculnya pergolakan dalam politik, agama, dan budaya (Perancis; Abad 12)
Ø   Perkembangan kritik sastra ditandai dengan munculnya penemuan-penemuan naskah klasik Aristoteles (Akhir Abad 13)—penemuan menyebar di daerah Arab, Spanyol, Inggris, Itali.
*Efek: memelajari dan mengembangkan ilmu Aristoteles lagi.
Ø  Aristoteles menjadi sumber yang penting pada paruh abad pertengahan karena dari pengembangan teorinya maka muncullah kemudian istilah istilah ilmu baru, antara lain: Estetika, Metafisika, Ilmu Pengetahuan Alam, Astronomi, Ilmu Bahasa, dan lain-lain.
Ø  Ada dua tokoh yang memelopori perkembangan kritik sastra abad prtengan paruh kedua, yaitu
a.      Italia: Alighieri Dante (1265-1321)—[ajaran menyuruh menulis dengan menggunakan bahasa sendiri]
b.      Paris: Ricard de Bury (1287-1345)—[mendapat ilham konsepsi dari buku konsep atau pandangan bukunya Aristoteles—“kesenangan sebagai perbuatan”, bahwa pada dasarnya sastra memunyai fungsi dulce et utile.
Ø  Simpulan: Konsep cara pandang kritik sastra abad Pertengahan tidak terlepas dari konsep atau pandangan yang sudah ada pada abad permulaan.

2.      Kritik Sastra Renaissance (Pertengahan—Modern)—[di Italia, Perancis, & Inggris]
Ø  Kritik berkembang pada abad 16
Ø  Kritik sastra renaissance merupakan kritik yang cenderung menekankan pada penilaian sastra dengan ‘akal budi’ dan kecintaan akan keindahannya (karya sastra).
Ø  Idea pembaca (kritikus)—[abad pertengahan]—menyatakan pandangan terhadap karya sastra (puisi): puisi berhubungan erat dengan logika dan retorika yang harus bisa bermanfaat kepada pembacanya.
Ø  Idea pembaca (kritikus)—[Modern]—menguraikan karya sastra (puisi): struktur, isi (makna), pengaruh puisi terhadap pembaca melalui pandangan ‘estetika’. Dengan demikian, muncullah KRITIK SASTRA MODERN.
Ø  Simpulan: KRITIK SASTRA KLASIK menuju KRITIK SASTRA MODERN bahwasannya KRITIK SASTRA KLASIK memunyai peranan kritik sastra yang bersifat memberi PENERAPAN atau PENGHAKIMAN. Sedangkan, KRITIK SASTRA RENAISSANCE bersifat memberikan PENGAJARAN terhadap asas-asas tertentu (di dalam karya sastra).

3.      Kritik Sastra Abad 17 (Perancis dan Inggris)
a.      Perancis
Ø  Kritik tidak terlepas dari ilmu atau pemikiran Plato [tiruan/mimetik]
Ø  Aliran kritik sastra dimaknai dengan istilah “Neo-klassisma”, yaitu tiruan yang harus disertai dengan akal budi (reason) dan pikiran yang sehat (good sense)
Ø  Neo-klassisma menekankan pada aspek “kebebasan” gaya bahasa dalam “penciptaan karya sastra”
Ø  Tokoh terpenting Neo-klassisma adalah Boileau (1639-1711)
Ø  Lihat hlm. 64—[hakikat kritik sastra Boileau]: “bahwa studi tentang manusia haruslah berpusat pada manusia sendiri—manusia pada umumnya, dan bukan perorangan
Ø  Kritik sastra Boileau menekankan pada aspek realistic studi—[semakin kita mendekat (memasuki isi pikiran KS) maka akan semakin benar, semakin tepat, semakin wajar, dan semakin tampak keindahannya (hasilnya; kritikus).
Ø  Kritik Sastra menekankan pada Exspressive Criticism—stilistika pengarang&stilistika pembaca.

b.      Inggris
Ø  Kritik sastra Inggris pada abad 17 menunjukkan aliran yang beraneka ragam.
Catatan: Cara pandang pembaca KS (kritikus)—[adalah “kebebasan”], tidak mengacu pada aturan atau kaidah dan teori.
Dua tokoh sentral: (1) Sir Francis Bacon (1561-1679), dan (2) Thomas Hobbes (1588-1679).
Ø  Kritik sastra Inggris—[Aplied Criticims]

4.      Kritik Sastra Pra-Romantisme (Abad 18)
a.      Perancis
Ø  Munculnya kritik sastra abad 18 karena efek dari abad 17, yakni permasalahan “puisi yang tidak ada kemajuan”, karena ditekan oleh rasionalisme.
Ø  Baru, memasuki abad 19 semangat puisi menjadi hidup kembali—[memunculkan suatu pergerakan yang maha dahsyat dalam Revolusi Perancis dan Pergerakan Romantisme dunia sastra.
Ø  Tokoh yang berperan dalam perkembangan kritik sastra Pra-Renaissance adalah:
1.      Voltaire (1694-1778)
-          Peran Kritik: Memperkenalkan nama Shakespeare kepada orang-orang Perancis (melalui kajian karya sastra dramanya).
-          Lihat hlm. 71. …“selera sastra, menurutnya adalah persoalan perseorangan. Kita tidak boleh memaksakan selera kita atas orang lain.

2.      Denis Dider (1713-1784)
Peran Kritik: Gagasan melalui teori dramanya yang diciptakannya.
Lihat hlm. 72. …panggung harus sedapat mungkin mendekati “kenyataannya”, percakapan-percakapan panjang harus dibuang-buang jauh, latar belakang panggung harus juga mendekati realita kehidupan, pelakon sebaiknya memakai nada yang wajar dalam deklamasi,…dst.
Ø  Kritik Sastra Perancis—[Impressionistic Criticism]

b.      Inggris
Ø  Abad 18 disebut-sebut sebagai kritik zaman ‘akal budi’
Ø  Kritikus pada abad 18 digolongkan ke dalam tiga golongan, yaitu:
1.      Golongan penganut akal budi
2.      Golongan selera
3.      Golongan Pemberontak-pemberontak yang melawan kekuasaan akal budi
Ø  Ada tiga tokoh yang berperan dalam perkembangan kritik sastra pra-renaissance, antara lain
1.      Samuel Johnson (1709-1784)
-          Percaya pada imajinasi ‘puitis’ akan tetapi harus dikontrol dengan akal budi (pengaruh?)
-          Lihat pernyataan hlm. 73-76. Johnson adalah orang yang terkaya dalam pengalaman kehidupan dan akal insaniah pada waktu itu. Ia pernah mengalami masa kemelaratan yang pahit dan mengerti benar kehidupan rakyat jelata—[pengaruh akal budi]—memunculkan teori neo-klasik: sastrawan haruslah pertama-tama berusaha membesar-besarkan tabiat dan adat istiadat…dst.

2.      Sir Joshua Reynolds (1723-92)
-          Kritik didasarkan pada imajinasi
Imajinasi sebaiknya disesuaikan dengan dibatasi oleh pemikiran dan pengetahuan yang dalam dari perasaan.

3.      Edward Young (1683-1765)
-          Pandangan tentang kritik ditendensikan pada penilaian karya sastra. Kemajuan sastra bisa dicapai jika kita dapat membebaskan diri dari cengkeraman sastra dan aturan-aturan mengembalikan ke-aku-an dan keaslian diri kita sendiri.

5.      Kritik Sastra Romantisme (Abad 18 Akhir—Awal Abad 19)
a.       Inggris
Tokoh-tokohnya:
1.      William Wordsworth (1770-1850)—[menekankankan realism sosialis]
2.      Samuel Tylor Coleridge (1772-1834)
3.      Percy Bysshe Shelley (1792-1822)—[menekankan liberalis]
b.      Perancis
Tokoh-tokohnya:
1.      Madame De Stael (1766-1817)
2.      Francois Rane De Chateaubriand (1768-1848)
3.      Victor Hugo (1802-1885)
c.       Jerman
Tokoh-tokohnya:
1.      Johann Gottfried Herder (1744-1803)
2.      Johann Wofgang von Goethe (1749-1832)
3.      Johann Cristhop Friedirh von Schiller (1759-1805)
4.      August Wilhelm Von Schlegel (1767-1845)
5.      Friedrich Von Schlegel (1772-1829)
6.      Friedrich Wilhelm Joseph von Schelling (1775-1854)
7.      Dll.
6.      Kritik Sastra Pasca-Romantisme (Pertengahan dan Akhir Abad 19)
a.       Perancis
Tokoh-tohonya:
1.      Charles Augustin Sainte-Beuve (1804-1869)
2.      Ernest Renan (1823-92)
3.      Hippolyte Taine (1828-1893)
4.      Ferdinand Brunetiere (1849-1970)
b.      Inggris
1.Matthew Arnold (1822-1888)
2. Walter Horatio Pater (1839-1894)
3. A.C Bradley (1851-1935)

7.      Kritik Sastra Dewasa Ini
a.       T.S Elliot—paham ‘isme’, memunculkan bebrapa kritik sastra baru, antara lain
-          Realisme
-          Naturalisme
-          Simbolisme
-          Surrealisme
-          Existensialisme
-          Espressionisme
-          Imagisme
b.      Kritik Sastra Ilmiah
c.       Kritik Sastra Psikologis

Problematika Membaca Hikayat di SMA

Tugas Kelompok Bersama:
1. Atthyyatun Nikmah
2. Desy Mayaning Rahayu








Bab 1
Fenomena Membaca
Hikayat di SMA kelas Dua

Hikayat adalah bagian dari prosa lama. Prosa lama cenderung bersifat imajinatif, istanasentris, dedaktif, anonim, dan bentuk serta isinya statis. Sedangkan prosa baru bersifat realis, dinamis, dan tidak anonim. Karya yang termasuk prosa lama ialah dongeng, (prosa lama yang isinya semat-mata
berdasarkan khayalan dan disampaikan secara lisan), hikayat ( isinya mengenai kejadian- kejadian di lingkungan istana, tentang keluarga raja), silsilah atau tambo (semacam sejarah, akan tetapi isinya sudah dicampur aduk dengan khayal sehingga  banyak cerita yang tidak tercerna oleh pikiran sehat.

Contoh hikayat:
1. Hikayat Hang Tuah
2. Hikayat si Miskin
3. Hikayat Panca Tantra
4. Hikayat Panji Semirang
5. Hikayat Dalang Indra Kusuma
6. Hikayat Amir Hamzah
7. Hikayat Anggun Cik Tunggal

            Lembaga pendidikan formal jika mau dipetakan barangkali berkisar pada hal-hal berikut. Pertama Pembelajaran sastra terutama membaca Hikayat di lembaga pendidikan formal dari hari ke hari semakin sarat dengan berbagai persoalan. Tampaknya, pembelajaran sastra memang pembelajaran yang bermasalah sejak dahulu. Keluhan-keluhan para guru, siswa, dan sastrawan tentang rendahnya tingkat apresiasi sastra selama ini menjadi bukti konkret adanya sesuatu yang tak beres dalam pembelajaran sastra di lembaga pendidikan formal (Nestapa, 2005). Beberapa keluhan dalam pembelajaran sastra di, pengetahuan dan kemampuan dasar dalam bidang kesastraan para guru sangat terbatas (Alpansyah, 2005; Wahyudi, 2007). Materi kesastraan yang mereka peroleh selama mengikuti pendidikan formal di perguruan tinggi (PT) sangat terbatas.
Materi kuliah kesastraan yang mereka peroleh lebih bersifat teoretis, sedangkan yang mereka butuhkan di lapangan lebih bersifat praktis. Kedua, buku dan bacaan penunjang pembelajaran sastra di sekolah, khususnya SMU juga terbatas (Rosidi
1997:19-25). Minat belajar dan minat membaca para siswa masih sangat rendah. Faktor ketersediaan waktu, manajemen perpustakaan sekolah, dan dorongan dari guru menjadi ikut menjadi penyebab dalam hal ini.
Berbagai kendala di atas menyebabkan pembelajaran sastra di berbagai jenjang pendidikan formal hingga saat ini belum mencapai sasaran sebagaimana yang diharapkan. Tujuan akhir pembelajaran sastra, penumbuhan dan peningkatan apresiasi sastra pada subjek didik belum menggembirakan. Pembelajaran Sastra: Adanya Seperti Tiada Beranjak dari berbagai persoalan yang dikemukakan di atas, tampaknya ada beberapa hal yang penting untuk dicermati ulang dalam pembelajaran sastra di sekolah dengan menggunakan acuan kurikulum yang diberlakukan saat ini. Pertama, dalam Kurikulum 1994, misalnya, yang diberlakukan di SMU disebutkan bahwa pembelajaran sastra dalam berbagai aspeknya diarahkan pada penumbuhan apresiasi sastra para siswa sesuai dengan tingkat kematangan emosionalnya. Hal ini mengisyaratkan bahwa perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran sastra idealnya diarahkan pada penumbuhan apresiasi pada siswa. Apresiasi sebagai sebuah istilah dalam bidang sastra dan seni pada umumnya sebenarnya lebih mengacu pada aktivitas memahami, menginterpretasi, menilai, dan pada akhirnya memproduksi sesuatu
yang sejenis dengan karya yang diapresiasikan. Karena itu, kegiatan apresiasi tidak hanya bersifat reseptif: menerima sesuatu secara pasif. Tetapi, yang lebih penting, apresiasi juga bersifat produktif: menghasilkan sesuatu secara aktif. Karena itu, pembelajaran sastra di lembaga pendidikan formal idealnya tidak hanya sebatas pada pemberian teks sastra dalam genre tertentu untuk dipahami dan diinterpretasikan oleh siswa (apresiasi reseptif).
             Pembelajaran sastra khususnya hikayat harus diarahkan pada penumbuhan kemampuan siswa dalam menilai atau mengkritik kelebihan dan kekurangan teks yang ada dan akhirnya, berdasarkan penilaian/kritik tersebut, siswa mampu membuat sebuah teks lain yang lebih bermutu, baik teks yang segenre ataupun tidak. Mungkin ada yang menganggap apa yang tersebut di atas terlalu ideal, hanya ada dalam angan, tetapi sukar ditemukan di alam nyata. Bagaimana mungkin guru, yang pengetahuan dan kemampuan dasar kesastraannya sangat terbatas diminta untuk mengajar siswa menghasilkan kritik teks dan bahkan menghasilkan karya sastra dalam berbagai genre.
         Tulisan ini ingin mengurai salah satu sisi dari berbagai macam keruwetan pembelajaran sastra di sekolah tersebut. Hikayat yang menjadi salah satu simpul keruwetan itu adalah materi mengenai sastra lama. Dalam bab dua akan
diurai beberapa permasalahan dalam pembelajaran sastra lama terutama hikayat.



                                                                            Bab II
Problematika Membaca
Hikayat di SMA Kelas Dua

Indonesia kaya dengan peninggalan tertulis dalam bentuk naskah. Hal ini amat berhubungan dengan tradisi tulis yang berkembang di banyak daerah karena masyarakat pendukungnya kebetulan memiliki aksara tersendiri. Kenyataan ini membuka peluang yang luas pada kita untuk memperkenalkan kearifan nenek moyang itu kepada para siswa agar mereka dapat memahami sekaligus mendapatkan manfaat dari naskah-naskah lama itu. Dengan memperkenalkan Adat Raja-raja Melayu misalnya, kita akan mendapat latar belakang serta tata cara berbagai upacara yang berhubungan dengan daur hidup raja-raja Melayu. Banyak di antara cerita itu kita jumpai dengan tema kepahlawanan, misalnya cerita-cerita yang bersumber pada dua cerita India Mahabharata dan Ramayana seperti hikayat Pandawa Lima dan Hikayat Sri Rama. Kita juga menemukan cerita-cerita pengaruh Islam seperti Hikayat Amir Hamzah dan Hikayat Muhammad Hanafiyyah; atau dengan tema percintaan, misalnya Cerita Panji yang muncul pada abad ke-14 di Jawa. Cerita yang pada awalnya ditulis dalam bahasa Jawa tengahan ini berkembang luas dan ikut memperkaya kesusastraan di berbagai daerah di Nusantara, seperti Bali dan Melayu dan beberapa negara di Asia Tenggara.
Dalam sastra Melayu lama satu versi cerita ini muncul dalam bentuk syair berjudul Syair Ken Tambuhan. Syair ini sendiri berkisah tentang percintaan dua anak raja yang penuh lika-liku sebelum pada akhirnya mencapai kebahagiaan seperti yang mereka cita-citakan. Bahkan beberapa di antara telah dikenal
luas oleh kita sekarang. Kita bersyukur peninggalan tertulis yang kaya itu masih ada sekarang dan dapat kita nikmati hingga hari ini. Hal ini bisa terjadi tentunya berkat perawatan yang baik oleh lembaga-lembaga yang memiliki perhatian kepada naskah. Namun demikian, sejauh manakah kita memberi pengetahuan dan memperkenalkan naskah-naskah (kesastraan) itu kepada para pelajar? Tampaknya ada beberapa kendala dalam memperkenalkan cerita-cerita lama kepada peserta didik di tingkat SMU. Pertama, cerita dalam naskah-naskah itu
ditulis dalam aksara Jawi atau aksara daerah lainnya. Dalam kenyatannya, sangat sedikit siswa yang memahami aksara-aksara tersebut meskipun yang bersangkutan berasal dari daerah tempat aksara itu dikembangkan. Kedua, bahasa dalam cerita-cerita lama adalah bahasa kuno sehingga tidak menarik pembaca (Ikram, 1997). Ketiga, langkanya buku- buku terbitan yang mereproduksi naskah-naskah tadi untuk dijadikan bahan bacaan.
Bacaan yang terbit dan sampai pada kita tampaknya terlalu berat bagi siswa-siwi karena biasanya buku-buku itu berasal dari telaah ilmiah seperti tesis dan disertasi. Memang kita tidak dapat menutup mata terhadap usaha Pusat Bahasa untuk menerbitkan transliterasi cerita-cerita lama dalam proyek penerbitan buku lembaga ini, namun hal itu dirasakan
belum cukup karena faktor distribusi yang tidak merata serta kemasannya yang sangat tidak menarik. Apabila kedua hal ini diatasi, terbuka kemungkinan guru atau sekolah untuk mendapatkan buku-buku tersebut secara lebih mudah untuk disajikan kepada siswa baik di dalam kelas maupun sebagai bahan bacaan penunjang. Keempat, kurikulum tidak memberikan peluang yang memadai bagi diajarkannya sastra lama kepada siswa. Kalaupun ada, hal itu harus diintegrasikan dengan pengajaran sastra modern. Barangkali ada sebagian siswa kita yang tertarik secara khusus pada bidang bahasa dan sastra, namun jumlah mereka sedikit sehingga banyak sekolah yang tidak tidak membuka jurusan ini.
Kelima, pengajaran bahasa dan sastra di sekolah-sekolah kita agaknya semakin mengarah pada usaha untuk menunjang kemampuan siswa untuk dapat lolos dan lulus SPMB. Dengan demikian, fungsi sastra sebagai alat untuk memperhalus akal budi manusia menjadi terpinggirkan.


                                                                Bab III
Solusi Membaca
Hikayat di SMA Kelas Dua

Penelitian ini berlatar belakang pada kenyataan bahwa pembelajaran membaca hikayat siswa kelas XI di SMA belum optimal. Untuk meningkatkan motivasi dan prestasi siswa, peneliti menggunakan model pembelajan kooperatif dengan teknik mengubah bacaan ke dalam gambar. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) apakah kemampuan membaca hikayat siswa dapat ditingkatkan melalui model pembelajaran kooperatif dengan teknik mengubah bacaan ke dalam gambar? (2) bagaimana perubahan perilaku siswa setelah mengikuti pembelajaran ini ? Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan peningkatan kemampuan membaca novel dan hikayat siswa, (2) mendeskripsikan perubahan perilaku siswa setelah mengikuti pembelajan kooperatif dengan teknik mengubah bacaan ke dalam gambar. Penelitian ini menggunakan dua tahap , yaitu siklus I dan siklus II. Tiap siklus terdiri atas tahapan perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Hasil penelitian ini adalah peningkatan siklus I sebesar 69,57 menjadi 77,93 pada siklus II. Siswa yang telah mencapai nilai di atas rata-rata pada siklus I sebanyak 57,14% atau 20 siswa. Pada siklus II menjadi 88,57% atau 31 siswa. Hal tersebut menggambarkan adanya kenaikan kemampuan siswa sebesar 31,43%. Hasil analisis data nontes menunjukkan adanya perubahan perilaku siswa dari negatif berubah menjadi positif.Siswa tampak senang mengikuti pembelajaran ini.
Tidak hanya itu saja solusi yang mampu guru lakukan dalam pembelajaran membaca hikayat ini adalah, dengan guru sedikit-sedikit memberikan acuan kepada siswa. Semisal, pada saat siswa kurang mampu memahami arti kata yang terkandung dalam suatu hikayat, guru selayaknya memberi tahu murid. Dan juga sebelum menginjak kepada materi membaca hikayat ini, guru bisa memberi pengantar materi mengenai hikayat. Dengan tujuan mengenalkan siswa kepada hikayat.
Ketika semua sudah berjalan lancar, pihak sekolah seharusnya bekerjasama dengan pemerintah untuk pengadaan buku-buku sastra lama ke dalam perpustakaan sekolah. Dengan begini secara tidak langsung, murid kita ajak membaca dan membiasakan untuk mengenal karya sastra lama terutama hikayat yang semakin hari dilupkan.
Tidak hanya itu, sebagai guru kita harus mengemas pembelajaran membaca hikayat ini dengan hal baru. Sebuah pembelajaran baru yang mampu menarik siswa untuk ikut membaca hikayat ini. Semisal, guru membacakan sebuah hikayat, kemudian guru menjelaskan kepada siswa ap makna yang terkandung didalamnya, serta memberikan manfaat yang diperoleh ketika membaca hikayat, lalu kita buat permainan kecil yang menarik dan yang kalah harus membaca serta mengartikan makna hikayat tersebut. Dengan begitu siswa akan terbiasa membaca dan belajar mengenai pemahaman membaca hikayat dan mencintai karya sastra lama serta mengapresiasikannya dalam kehidupan sehari-hari.


                                                      Fakultas Ilmu Budaya
Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Brawijaya
Desember 2011



Resensi Buku Non-Fiksi (Biografi: Titiek Puspa)


Judul Buku      : Titiek Puspa, sebuah biografi
Penulis             : Ninok Leksono
Negara             : Indonesia
Bahasa             : Indonesia
Genre              : Autobiografi
Hal                  : xxiii, 272 halaman
Penerbit           : Jakarta: Buku Kompas
Tahun              : 2003
ISBN               : ISBN 979-709-108-2



Sinopsis

Titiek Puspa, yang mempunyai nama asli Sudarwati yang diubah menjadi Kadarwati dan terakhir diubah menjadi Sumarti lahir di Tanjung, Tabalong, Kalimantan Selatan, 1 November 1937. Nama "Titiek Puspa" diambil dari Titiek yang merupakan nama panggilannya sehari-hari dan Puspa dari 'Puspo' nama bapaknya. Nama ini pula yang diambil untuk nama orkes pengiringnya "Puspa Sari" yang dipimpinnya sendiri dan mengiringinya menyanyi di awal kariernya.
Awal karier bernyanyinya dimulai di Semarang, kota di mana Titiek Puspa yang kini disebut sebagai diva legendaris oleh Majalah Wanita Kartini, mengikuti kontes menyanyi "Bintang Radio". Tidak hanya sampai di bidang menyanyi saja, 'eyang Titik' juga menunjukan totalitasnya dalam menggarap beberapa operet yang sempat sangat disukai pemirsa TVRI, seperti operet bawang Merah Bawang Putih,Ketupat Lebaran, Kartini Manusiawi Kartini dan Ronce-ronce.
Titiek kukuh maju ke festival mengikuti saran dan dorongan teman-teman. Titiek atau Soemarti disarankan mendaftar dengan mengubah nama menjadi Titiek Puspo, diambil dari nama panggilannya Titiek dan Puspo dari nama ayahnya, sebagai siasat agar tidak ketahuan ayahnya. Soemarti setuju lalu mengindonesiakan nama Puspo menjadi Puspa. Maka, lengkaplah nama baru Titiek Puspa sebuah nama beken yang di kemudian hari melegenda dalam jagat dunia musik pop Indonesia. Walau menghadapi saingan, kebanyakan murid SMA, Titiek yang masih duduk di bangku SMP berhasil keluar sebagai juara pertama.
Rekaman piringan hitamnya yang pertama dengan label Gembira, berisi lagu Di Sudut Bibirmu, Esok Malam Kau Kujelang, dan duet bersama Tuty Daulay dalam lagu Indada Siririton, iringan musik Empat Sekawan Sariman. Pada pertengahan 1960, Titiek Puspa sempat menjadi penyanyi tetap pada Orkes Studio Jakarta. Saat itu Titiek Puspa banyak mendapat bimbingan dari Iskandar (pencipta lagu dan pemimpin orkes) dan Zainal Ardi (suaminya sendiri seorang announcer Radio Republik Indonesia Jakarta). Sebagai penyanyi yang mulai menanjak popularitasnya, Titiek belum menciptakan banyak lagu dalam albumnya, lagu-lagunya banyak diciptakan misalnya oleh Iskandar, Mus Mualim, ada juga Wedasmara.
Barulah pada album Si Hitam dan Pita (1963) yang berisi 12 lagu tiap albumnya semuanya adalah ciptaannya sendiri dan menjadi populer saat itu, selain itu juga album Doa Ibu berisi 12 lagu, 11 lagu adalah ciptaannya dengan 1 lagu ciptaan Mus Mualim. Dari album Si Hitam, lagu yang semakin memopulerkan namanya adalah Si Hitam, Tinggalkan, Aku dan Asmara. Bisa juga dikatakan bahwa bersama album Si Hitam, album Doa Ibu adalah album yang legendaris karena berisi lagu-lagu Minah Gadis Dusun, Pantang Mundur, yang semakin menancapkan Titiek Puspa sebagai penyanyi dan pencipta lagu Indonesia yang baik.bersama seorang dari.
Selain penyanyi dan pencipta lagu, Titiek juga pencipta operet dan main dalam 19 film layar lebar. Dalam usia yang sudah berkepala enam ini, ia tetap tampil cantik, aktif, dan masih menjadi bintang iklan sejumlah produk, tampil dalam sebuah tv show, serta setiap tahun melawat keluar negeri menampilkan keseniaan rakyat Indonesia. Ialah Kartini modern Indonesia.

Kelebihan
1.      Buku yang mampu mengilhami pembaca.
2.      Buku motivasi.
3.      Ceritanya dikemas dengan menarik, sehingga pembaca tidak bosan.
4.      Jilidan buku baik.
5.      Bahasa yang digunakan baku.
6.      Kutipan lirik lagu yang menambah daya tarik saat membaca.
7.      Biografi dituangkan dengan rinci.
8.      Alur cerita detail dan sederhana.

Kekurangan
1.      Pencitraan Titiek hanya dilihat dari kebaikannya saja, hal ini membikin Titiek seperti manusia sempurna.
2.      Sampul depan kurang menarik.
3.      Kurang adanya komentar dari penggemar atau teman-teman artis.
4.      Bahasa monoton.

Tugas Kutipan

Berikut ini akan saya shere kan contoh  kutipan:

Bahasa Indonesia di Dalam Pendidikan serta Peran Pendidikan dalam Kehidupan

            Berbicara mengenai pendidikan, Indonesia memiliki peringkat prestasi yang kurang memuaskan. Hal ini menjadi masalah bersama yang harusnya perlu penelitian lanjutan untuk menanganinya. Banyak sekali pelajaran yang dianggap susah, padahal sangat mudah untuk dipelajari. Sedangkan banyak pelajaran yang dianggap mudah, justru menjadi faktor yang mematikan di kala Ujian Akhir Nasional (UAN). Terutama adalah pelajaran Bahasa Indonesia.
            Alfianto, A (2006) mengatakan bahwa “Pendidikan Bahasa Indonesia merupakan salah satu aspek penting yang perlu diajarkan kepada para siswa di sekolah”. Hal inilah yang kurang dimanfaatkan oleh para pengajar sekarang. Mereka hanya memberikan materi yang membosankan. Tidak pernah ada pembaharuan, yang membuat pelajaran ini menjadi lebih menarik dan mudah dipahami.
            Harras (1994) menerapkan beberapan fakta bahwa guru berperan penting dalam proses pendidikan. Sesuai dengan apa yang diutarakan berikut ini.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di beberapa negara berkembang, termasuk Indonesia, dilaporkannya bahwa guru merupakan faktor determinan penyebab rendahnya mutu pendidikan di suatu
sekolah. Guru Bahasa Indonesia juga harus memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran bahasa yang langsung berhubungan dengan aspek pembelajaran menulis, kosakata, berbicara, membaca, dan kebahasaan .Rupanya guru juga harus selalu melakukan refleksi agar tujuan bersama dalam berbahasa Indonesia dapat tercapai.

          Menyadari peran penting pendidikan bahasa Indonesia, pemerintah seharusnya terus berusaha meningkatkan mutu pendidikan tersebut. Apabila pola pendidikan terus tidak berubahdan terus dengan pola-pola lama, maka hasil dari pembelajaran bahasa Indonesia yang didapatkan oleh siswa juga tidak akan bepengaruh banyak. Sejalan dengan tujuan utama pembelajaran Bahasa Indonesia supaya siswa memiliki kemahiran berbahasa diperlukan sebuah pola alternatif baru yang lebih variatif dalam pengajaran bahasa Indonesia di sekolah. Agar proses KBM di kelas yang identik dengan hal-hal yang membosankan dapat berubah menjadi suasana yang lebih semarak dan menjadi lebih hidup.
          Pendidikan selain untuk masa depan yang cerah, juga bermanfaat sebagai proses pembangunan di Indonesia. Muliani (2009) “Pendidikan mempunyai tugas menyiapkan sumber daya manusia unuk pembangunan”. Apa jadinya bila pembangunan di Indonesia tidak dibarengi dengan pembangunan di bidang pendidikan?. Walaupun pembangunan fisiknya baik, tetapi apa gunanya bila moral bangsa terpuruk. Jika hal tersebut terjadi, bidang ekonomi akan bermasalah, karena tiap orang akan korupsi. Sehingga lambat laun akan datang hari dimana negara dan bangsa ini hancur. Oleh karena itu, untuk pencegahannya, pendidikan harus dijadikan salah satu prioritas dalam pembangunan negeri ini. Maka perlunya pendidikan sangat menunjang untuk perbaikan pembangunan yang lebih baik.
            Untuk menunjang semua ini perlu sekali para teaga pengajar yang kompeten. Tidak hanya itu juga harus mampu menguasai materi. Tapi apa yang terjadi? Sekarang ini malah banyak sekali masalahyang dihadapi sekolah karena kurangnya tenaga pendidik. Asyhar, M (2002) “Kekurangan guru. Sungguh sebuah realitas potret pendidikan kita (salah satu sisi) yang sangat menyedihkan. Betapa tidak, pendidikan adalah modal utama terciptanya kemajuan peradaban sebuah bangsa. Di pihak lain, guru sebagai tenaga profesional di bidang ini justru jumlahnya semakin langka”.
            Solusi untuk hal ini adalah meningkatkan standar nilai kelulusan calon tenaga pendidik yang akan mengajar (Asyhar, M. 2002). Dengan adanya kenaikan standar nilai ini, diharapkan para calon pendidik mamapu memberikan warna baru dan menciptakan generasi muda yang mampu memperbaiki mutu pendidikan dan pembangunan di Indonesia.
            Mukminin, A (2003) “Memang harus kita akui ada diantara (oknum) generasi muda saat ini yang mudah emosi dan lebih mengutamakan otot daripada akal pikiran. … . Hal inilah yang harus kita perbaiki sebagai para Pendidik Anak Bangsa”. Kita pasti bisa apabila ada kemauan dan kita pasti bisa apabila ada kemauan untuk merubah itu semua kearah yang lebih baik.