Rabu, 23 Mei 2012

Kebudayaan Madiun

Sastra dalam Budaya yang Bertopeng
Oleh: Rizal Ariffin

Hidup tanpa cinta, bagaikan taman tidak berbunga dan hidup tanpa ekspresi rasanya hidup ini kurang berwarna. Ekspresi adalah suatu ungkapan atau menyatakan maksud, gagasan, perasaan, dan sebagainya. Setiap manusia pasti dan tidak dapat dipungkiri lagi memiliki sebuah ekspresi yang antarindividu berbeda. Ekspresi dapat dikatakan sesuatu yang abstrak dan dimiliki oleh setiap manusia yang menjadikannya berbeda satu sama lain. Inilah yang menjadikan manusia memiliki sifat dan karakter yang berbeda. Salah apabila seseorang menyalahkan orang lain karena orang lain mempunyai style sendiri dan diri sendiri mempunyai style sendiri tidak dapat disamakan dan dibandingkan.
            Begitu juga dengan yang namanya “Sastra”. Bagi saya sastra itu luas, tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata, dan abstrak. Sastra adalah ekspresi, keinginan untuk bertindak, dan  menghargai perbedaan. Sastra adalah ekspresi jiwa seseorang yang sedang ingin mencurahkan, mengungkapkan, mengeluarkan, dan menyelesaikan semua masalah yang dihadapi. Sastra adalah teman dan sahabat yang baik. Di mana seseorang membutuhkan, sastra akan selalu ada karena sastra bersifat abstrak. Sastra tidak bisa untuk disalahkan dan dihakimi, karena ekspresi adalah imajinasi dan ungkapan hati seseorang, dan sudah dikatakan setiap orang memiliki ciri khasnya masing-masing yang bertindak sebagai pembeda antara satu dengan yang lainnya. Itulah menariknya sastra di mata saya, ia mampu berada di mana saja, pada suasana apa saja, dan pada siapa saja tanpa ada yang menyalahkan dan mendoktrin satu sama lain. Sastra juga sebuah keinginan untuk bertindak, mengapa demikian? Karena sastra adalah suatu aksi, tindakan, dan perbuatan. Tidak semua tindakan bisa dikatakan sebagai sastra. Tindakan yang bisa dikatakan sastra adalah, tindakan oleh manusia yang memiliki akal untuk berpikir melakukan pekerjaan yang menghasilkan sebuah karya dan seni serta memiliki unsur keindahan dan kejujuran. Sastra adalah alat untuk menghargai sebuah perbedaan. Mengapa demikian? Pertanyaan yang sebenarnya mudah untuk dijawab, tetapi sulit diutarakan. Sastra yang merupakan suatu ciri khas dari seseorang yang memiliki jiwa seni atau curahan hati ini adalah salah satu bentuk atau apresiasi sastra untuk mempersatukan perbedaan dan mengajari semua orang akan pentingnya saling mengerti dan memahami satu sama lain. Bagi sebagian orang memang hal ini sulit dipahami, tetapi inilah sastra menurut saya yang abstrak dan tidak dapat disalahkan. Setiap suku, masyarakat, komunitas, kelompok, dan individu yang berbeda memiliki arti dan karya dalam sastra sendiri, tetapi mereka semua satu dalam sastra yang kaya akan syarat makna dan estetika.
            Sastra tersebut banyak sekali dan sangat mudah dijumpai karena keberadaannya membuat hati tenang dan damai. Sastra itu sendiri sebenarnya dalam dunia pendidikan dibagi menjadi dua antara lain: prosa dan puisi. Prosa adalah karya sastra yang tidak terikat sedangkan puisi adalah karya sastra yang terikat dengan kaidah dan aturan tertentu. Contoh karya sastra puisi yaitu puisi itu sendiri, pantun,  dan syair, sedangkan contoh karya sastra prosa yaitu novel, cerita/ cerpen, rama, dan teater, drama serta budaya tradisional itu sendiri yang erat kaitannya dengan unsur estetik, religius, serta kesakralan yang tinggi. Dalam arti yang pernah saya pelajari demikian, tetapi sastra itu luas dan jika di atas saya mengatakan sastra itu adalah ungkapan dan pemikiran seseorang yang menjadikannya ciri khas atau cerminan dari apa yang sedang ia alami itulah sastra. Walaupun sastra dibagi menjadi sastra tertulis atau sastra lisan, tetapi sastra tidak banyak berhubungan dengan tulisan, tetapi dengan bahasa yang dijadikan wahana untuk mengekspresikan pengalaman atau pemikiran tertentu.
Oleh karena itulah, sastra mampu masuk ke dalam setiap kehidupan dalam hidup bermasyarakat dan kehidupan masing-masing orang bahkan semua orang yang memiliki perasaan pasti memiliki jiwa-jiwa sastra. Semuanya memang membutuhkan sebuah proses yang tidak sebentar, harus adanya pembimbing agar masyarakat mengetahui sastra itu sendiri dan mengembangkan sastra dalam diri sendiri. Hal itu disebabkan karena sastra adalah cerminan diri pridadi atau diri sendiri yang apabila tidak terkontrol, maka akan rusak dan sedikit demi sedikit akan hilang. Dapat dikatakan bahwa sebenarnya sastra yang berkembang dalam masyarakat adalah budaya itu sendiri. Tetapi, keberadaannya sangat kecil untuk dijumpai.
Budaya juga seperti itu, budaya merupakan bagian dari karya sastra. Ada yang tergolong ke dalam karya sastra lisan dan tulis. Tetapi, kebanyakan kebudayaan di seluruh daerah Indonesia bahkan dunia, masuk ke dalam karya sastra lisan atau karya sastra oral. Jelas tidak efektif bahwa kebudayaan suatu daerah berupa karya sastra tulis. Di samping tidak menarik dan sedikit peminatnya, banyak karya sastra tulis peninggalan zaman prasejarah yang menggunakan bahasa-bahasa kuno dan sangat jarang sekali orang yang tahu maksud dan arti dalam karya sastra tulis atau peninggalan tulis tersebut. Inilah satu kelemahan karya sastra tulis, ketika dihadapkan pada satu benda yang merupakan contoh jenis karya sastra tulis maka persoalan yang pertama kali muncul adalah, “bagaimana cara membacanya dan bagaimana cara mengartikannya?” Sangat sulit ketika seseorang tidak bersama orang yang handal dalam menterjemahkan tulisan-tulisan tersebut. Walaupun karya sastra tulis ini memiliki kelebihan yang mungkin merupakan suatu proses berpikir untuk para penikmat sastra tulis adalah imajinasinya. Imajinasi sangat diperlukan untuk seseorang ketika membaca karya sastra berwujud tulisan ini. Hasil yang didapatkan pun kurang lebih memiliki perbedaan inti dan maksud dari tulisan tersebut. Berbeda apabila dengan karya sastra lisan atau karya sastra oral. Kebudayaan akan lebih terlihat berseni dan memiliki nilai persuasif atau mempengaruhi yang tinggi. Sebagai penikmat dan nantinya sebagai penerus para pendahulu yang menjadikan kebudayaan tersebut ada untuk tetap melestarikannya ini, seseorang akan dipandu untuk memahami secara langsung. Apa yang didengar, apa yang dilihat, dan apa yang dibaca semuanya menjadi sangat mudah untuk dipahami. Tanpa disadari bahasa adalah alat pemersatu, itulah salah satu fungsi bahasa. Karya sastra lisan ini pasti menggunakan media bahasa untuk menjadikannya mudah untu dipahami dan dimengerti serta dipelajari untuk tetap dilestarikan dari generasi ke generasi.
Karena saya ini orang asli Kabupaten Madiun, maka saya akan memberikan ulasan singkat mengenai budaya yang ada di Kabupaten saya. Sangat menarik apabila kita membahas mengenai budaya dan kesenian. Budaya dan kesenian dua hal yang berbeda tetapi sama, berbeda dalam unsur kepercayaan untuk mengikuti suatu budaya yang memiliki satu arah yang sama sebagai sebuah keseniaan daerah. Banyak sekali kebudayaan yang disalahgunakan dan berakibat buruk bagi kebudayaan tersebut. Pada sebagian daerah, kebudayaan biasanya digunakan sebagai maskot atau daya tarik tersendiri, tidak jarang juga sebagian kebudayaan digunakan sebagai ritual khusus keagamaan atau dalam hari-hari besar dan hari-hari penting yang diwajibkan warga masyarakatnya melakukan ritual tersebut. Budaya dari Kabupaten Madiun yang sangat riskan adalah upacara bersih desa, yang saat ini digunakan sebagai ritual daerah yang mungkin beberapa daerah lain di Jawa Timur juga menggunakan budaya ini. Berbeda dengan daerah lain dan mungkin ini adalah sebuah gejala kerusakan budaya tradisional atau turun temurun yang diakibatkan oleh adanya salah pengertian antara perangkat desa yang lama dengan yang baru, atau para sesepuh desa yang memimpin jalannya upacara ini. Di Kabupaten Madiun, upacara bersih desa ini diadakan dengan cara salamatan di punden (tempat keramat) atau di bawah pohon bringin besar di desa saya. Tidak berhenti sampai di situ, setelahnya biasanya panitia upacara bersih desa ini memberikan hiburan gratis berupa Wayang Kulit, Reog, dan Gambyongan yang di situ pasti banyak bapak-bapak dan para pemuda desa yang minum-minuman hingga mabuk dan tidak jarang sampai terjadi baku hantam dengan sesama warga. Hal inilah yang mencoreng citra budaya bersih desa ini, seharusnya budaya bersih desa ini bertujuan untuk mengucapkan rasa syukur masyarakat kepada Allah Swt yang memberikan banyak rejeki, keselamatan, dan ketentraman desa.
Budaya yang sedikit demi sedikit kembali ditinggalkan adalah Karawitan dan Dongkrek. Dua keseniaan dan budaya tradisional Madiun yang sedikit demi sedikit terlupakan dan hilang dari permukaan. Budaya atau kesenian Karawitan ialah seni gamelan dan seni suara yang bertangga nada slendro dan pelog, dengan pengiring musik berupa seperangkat alat musik yang bernama Gamelan. Gamelan Jawa adalah ensembel musik yang biasanya menonjolkan metalofon, gambang, gendang, dan gong. Musik yang tercipta pada Gamelan Jawa berasal dari paduan bunyi gong, kenong dan alat musik Jawa lainnya. Irama musik umumnya lembut dan mencerminkan keselarasan hidup, sebagaimana prinsip hidup yang dianut pada umumnya oleh masyarakat Jawa. Gamelan Jawa terdiri atas instrumen Kendang, Bonang, Bonang Penerus, Demon, Saron, Peking (Gamelan), Kenong dan Kethuk, Slenthem, Gender, Gong, Gambang, Rebab, Siter, Suling, dan Kempul
Sementara itu tari Dongkrek merupakan salah satu kesenian tradisional yang ada di Kabupaten Madiun. Tari Dongkrek telah menjadi simbol bagi masyarakat Desa Mejayan, terutama sebagai desa lahirnya kesenian dan budaya Kabupaten Madiun dan Kota Madiun ini akan makna yang terkandung di dalamnya yaitu sebagai media untuk mengusir pageblug atau wabah penyakit serta media tolak bala dan sampai saat ini masih dipercaya akan kekuatannya. Tari Dongkrek mengandung banyak makna religius dan mistik yang terdapat dibalik simbol-simbol yang digunakan dalam kesenian tari Dongkrek. Dalam kesenian tari Dongkrek, terdapat pesan-pesan yang disampaikan melalui simbol-simbol. Dilihat dari topengnya ada tiga macam, antara lain topeng orang tua, topeng perempuan, dan topeng raksasa. Ketiga topeng tersebut memiliki simbol yang menggambarkan tentang kehidupan pada masa itu. Dilihat dari alat musiknya ada tujuh simbol alat musik yang digunakan saat pertunjukkan arak-arakan, antara lain bedug, korek, kentongan, kenong, kendang, gong beri dan gong pamungkas. Dilihat dari pakaiannya ada tiga macam, antara lain pakaian orang tua, pakaian perempuan, dan pakaian raksasa yang ketiganya merupakaan sebagai simbol pelengkap dari kesenian tari Dongkrek. Dilihat dari makna religiusnya, tari Dongkrek tidak pernah lepas dari unsur mistik dan unsur gaib karena tari Dongkrek berkaitan erat dengan kepercayaan animisme (kepercayaan kepada roh yang mendiami semua benda bisa pohon, batu, sungai, gunung, dan sebagainya) dan dinamisme (kepercayaan bahwa segala sesuatu mempunyai tenaga atau kekuatan yang dapat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan usaha manusia dalam mempertahankan hidup). Tari Dongkrek sebagai suatu karya seni memang perlu dikomunikasikan kepada masyarakat agar masyarakat tahu apa yang ada di balik kesenian Tari Dongkrek. Tari dongkrek saat ini sudah sedikit ditinggalkan dan sangat jarang ditemukan orang-orang yang melestarikannya, akibat yang sangat fatal adalah hilangnya atau musnahnya tarian ini dari daerah Madiun sebagai ciri khas Kota/Kabupaten Madiun ini. Para pemuda atau siswa di sekolah-sekolah banyak yang tidak mengenal adanya kebudayaan tradisional ini. Sekolah-sekolah kurang adanya kepedulian mengenai seni budaya tradisional, dan tergeser oleh teater modern dan lawak modern yang sering diajarkan di sekolah.
Budaya yang sekarang berkembang pesat adalah budaya-budaya Barat yang sudah tidak lagi memiliki unsur-unsur sastra yang tinggi. Mereka sedang mencoba untuk meracuni pikiran-pikiran para anak-anak, para pemuda, dan remaja yang seharusnya sebagai pelestari Budaya mereka. Sekali lagi budaya adalah jati diri sebuah daerah yang di dalamnya terdapat makhluk-makhluk sosial. Tetapi, fakta yang ada sekarang berlawanan, budaya-budaya yang berkembang saat ini menutup muka atau bertopeng dan memalingkan muka terhadap unsur-unsur sastra, sehingga menjadikan budaya tersebut kehilangan Jati dirinya.
Dua kebudayaan yang ada di Kota dan Kabupaten Madiun ini sangat beresiko akan kepunahan. Perlu adanya seseorang yang memulai untuk mengembalikan kembali kebudayaan Karawitan dan kesenian tari Dongkrek ini. Semuanya dapat berlangsung dan dikembangkan melalui media apa pun. Medianya itu bisa dari elektronik dan cetak. Media elektronik bisa melalui Televisi lokal Madiun dan Radio-radio yang ada di Madiun, dan media cetak dapat melalui koran-koran lokal dengan saya mengirim tulisan dalam rubrik Seni Budaya. Itulah salah satu cara global saya yang saya lakukan ke depannya, yang telah saya lakukan adalah saya pernah berpartisipasi dalam acara kesenian daerah.
Apa yang bisa saya lakukan pasti akan saya lakukan dan saya senang mengikuti kegiatan apa pun. Di SMA saya mengikuti ekstrakulikuler karawitan, saya di situ bertindak sebagai vokalis dalam perkumpulan seni tersebut. Dalam desa saya juga mengusahakan agar karawitan ini masih dilestarikan dan tidak terkalahkan dengan adanya musik-musik dangdut yang semakin merakyat ini. Dalam seni dongkrek saya memang belum menekuni, tetapi saya pada waktu SMP pernah ikut latihan sebentar dan waktu pentas saya tidak mengikuti karena saya menjadi juru bicara sekolah pada saat itu. Tetapi, saya sebagai seorang calon pendidik atau biasa dipanggil dengan seorang calon guru, sehingga saya berkesempatan dan berpeluang besar untuk ikut melestarikan budaya tari Dongkrek di Madiun, dengan sedikit memberi saran kepada sekolah-sekolah untuk mengadakan ekstrakulikuler tari Dongkrek ini. Itulah cita-cita saya untuk melestarikan seni dan budaya Jawa Timur tradisional.

Senin, 21 Mei 2012

Cerita dalam Hujan


Pemberian Hujan dari Tuhan
Oleh: Rizal Ariffin

                     “saat mentari ini terbenam di temani dengan kicauan burung-burung kematian...Di saat itulah angan dan asaku berhenti dalam sekejap...   Merenungi setiap kesalahan dalam hidupku di temani tangisan langit senja...”
Mentari boleh saja terbit dari ufuk timur bumi ini dan itu sama di belahan bumi yang lain. Mentari juga boleh terbenam dari ufuk barat itupun sama di belahan bumi yang lain. Semua berjalan dan berlari, muncul dan terbenam, bangkit dan tertidur, serta hidup dan mati sesuka hatinya tanpa manusia bisa mengatur. Akankah sama kehidupan manusia dengan mereka semua yang seenaknya itu? Tentu Tidak. Di atas langit masih ada langit, di atas bumi masih ada bumi, dan diatas yang baik masih ada yang terbaik, bahkan di atas siswa ada mahasiswa. Namun, Ialah yang disebut sebagai Tuhan Maha dari seluruh dzat yang ada baik di bumi dan di langit.
            “Hai Tuhan!” sapaan biasa tapi selalu saja tidak pernah terjawab.
            Burung-burung hitam muncul dari tempat peraduan. Satu persatu mereka mewarnai langit-langit merah senja yang sedikit demi sedikit mulai menghitam. Angin kencang berdebu datang tapi tidak menggoyahkan sekawanan burung yang terbang di langit kala itu. Pemandangan kala itu sungguh mengagumkan seakan-akan mereka bertambah senang dan mereka membuat lingkaran besar.
            “Cit...cit..cit..cit..cit...!!!” suara-suara aneh yang sangat mengerikan.
            Begitu banyak memecah keheningan dalam kesunyian waktu.  Selang beberapa menit dalam senja yang bising dengan nyanyian penuh makna terdengar suara keras seperti hendak menelan manusia. Diiringi dengan sambaran cahaya bak aliran listrik konslet di rumahku. Seolah-olah terusik dan merasa kurang senang akan kehadiran burung-burung hitam yang bernyanyi membuat gaduh. Lima menit sudah ia terus berteriak dan marah-marah namu tak kunjung usai dan berhenti.
            “Der...jeder...jeder...jeder...!!!” ia terus marah pada burung-burung itu.
            “Sudah hentikan... kalian semua diamlah...!!!” teriakku sambil menutup cendela kamar yang terbuka karena tiupan alam yang seakan-akan ikut marah.
            Tidak lama kemudian benar saja listrik di rumah padam bahkan tidak hanya di rumahku saja seluruh desa kala itu padam semua. Langit senja yang indah berubah menjadi langit gelap yang menakutkan. Semua seakan terjadi hanya karena gerombolan burung hitam yang berpesta dan menari-nari di atas langit yang indah itu. Inilah kemarahan alam yang sungguh menakjubkan. Namun, burung-burung itu masih tetap kukuh untuk tetap bernyanyi dan menari di atas awan gelap.
            “Sudah semua berhenti...!!!” sekali lagi teriakku dalam kamar yang sepi tanpa seorangpun dalam rumah.
            Sepenggal kata yang tidak menghentikan semua ini. Aku berlari keluar rumah, berlari, dan terus berlari untuk menghindari suara-suara ini. Namun, teriakanku tidak mampu menenangkan suara ricuh yang membuat hatiku menjadi semakin gundah. Aku berhenti dan menangis serta berteriak sekuat yang aku bisa di tengah ladang tandus nan sepi ini. Seperti mengiringi teriakanku angin berlari begitu cepat dan kencang seakan-akan membawa pesanku untuk langit.
            Aku mulai terlelah dan aku jatuh menopang pada batang besar pohon yang roboh. Meratapi semua yang terjadi dalam hidupku. Tanah kering kerontang yang seakan merintih kepanasan. Burung-burung yang menjerit meminta pohon untuk berteduh. Bahkan katak-katak yang bernyanyi seperti sedang mengadakan konser paduan suara ini juga menambah ricuh suasana kala itu. Semua seakan menginginkan dan mengharapkan belas kasihan dari Sang Maha Pencipta.
            Seketika itu aku pun menitihkan air mata, menerobos, dan menguak ingatan ku dalam memori otakku akan kisahku waktu dulu ketika kami masih bersama. Bersama dalam suka dan duka dalam kasih dan cinta. Satu keluarga utuh yang saling mengasihi dan melindungi. Selalu bersama dan berbagi tidak pernah membedakan. Semuanya telah hancur dengan seiringnya waktu yang yang penuh misteri.
            Hilang dalam angan yang selalu terpendam di hatiku terdalam. Tanpa bisa ku cari dan ku buka kembali. Hanya dapat ku kenang dan ku jadikan pelajaran dalam hidup. Bahwa kebahagian yang asesungguhnya adalah dimana kita mengetahui dan mampu mengalahkan kesusahan dalam hidup. Semuanya memang harus terjadi, berlangsung, dan harus di jalani. Tanpa itu semua hidup akan terasa sama saja tanpa ada perubahan dan pengertian yang bauk dan benar.
            “Tuhan kenapa kau tarik semua kebahagianku, kesenanganku, dan keceriaanku? Apakah Kau sudah tidak sayang lagi padaku? Kadang aku merasa kecil di mata orang lain, namun aku yakin mereka semua tidak ada apa-apanya dengan diri-Mu Ya Rabb...!” kataku sambil menitihkan air mata kembali.
            “Tuhan bolehkah aku bertemu dengan ibuku? Aku ingin berbagi kesedihan dalam keramaian yang begitu sunyi ini! Apakah di sana ibuku baik-baik saja?”
            “Tuhan andai ku dapat mengulang waktuku, bolehkah aku meminta dia kembali? Menemani hari-hariku agar tidak terasa begitu sepi?” kata-kata itu seperti kata-kata terakhir ku yang bisa aku ucapkan di tanah kering bebatuan yang disaksikan alam beserta isinya.
            Seakan alam mengerti keinginanku, mengerti perasaanku, mengerti keraguanku, mengerti kesedihanku, dan mengerti segala isi hatiku ia ikut menangis. Menjatuhkan air mata ke tanah kering yang menjadi basah oleh air mata langit. Kepada katak-katak yang memberikannya minum. Kepada burung-burung yang kelak akan mendapatkan tempat tinggal yang nyaman. Tangisan langit ini begitu membawa berkah dan syukur tersendiri bagi mereka yang benar-benar membutuhkan pemberian hujan ini.
            Tuhan memang adil, Engkau Maha adil dan Maha penyanyang. Setiap kali ada kesedihan, Engkau juga berikan tangisan bahagia dalam tetesan hujan. Namun, tidak bagiku! Aku merasa sama, aku merasa sedih, dan aku merasa sendiri. Apakah Tuhan tidak adil kepadaku? Atau apakah memang karena aku sudah sangat begitu kejam kepada mereka yang menyanyangi ku? Seketika itu caha putih seakan mendekat padaku.
            Cahaya putih yang begitu cepat datang padaku tanpa permisi. Begitu sakit ku rasa. Panas, sesak, dan aku merasa sakit luar biasa. Badanku bagaikan disayat-sayat. Kulitku terasa terangkat dan mengelupas. Mataku terpejam tidak mampu melihat apapun. Badanku pun kaku menggelincang bagaikan cacing kepanasan. Sudah pasrah akan apa yang terjadi dalam hidupku.dalam doa ku sebut nama ibuku.
            “Anakku!, kemarilah sayang ikutlah engkau dengan ibumu.”
            “Kau siapa? Ibuku sedang tidur dalam dekapan Sang Illahi!”
            “Aku ibumu nak, tidakkah kau merindukanku? Mengapa kini kau melupakanku? Mengapa kau tidak mendoakanku dalam malam mu? Kemana jiwamu yang dulu nak?”
            “Aku selalu menjadi aku yang dulu, ku pikir ibu ku sudah tenang di sana!”
            “baiklah kalau kau tetap begitu jangan lagi kau memanggilku dengan sebutan ibu!”
            “Kau ini siapa memangnya?”
            “Selamat tinggal, berubahlah kau agar kau mengetahui siapa aku nak?”
            “Hai... tunggu siapa kamu?” seakan berlari mengejar wanita dengan gaun putih bersinar dengan tergopoh-gopoh namun wanita itu tidak terkejar lagi.
            Begitu aku terbangun dari mimpi ku yang terasa singkat badan ku seakan tidak bisa di gerakkan. Semua terasa gelap tidak bercahaya. “Apakah kini aku berada dalam neraka?” dalam hati aku bertanya demikian.
“Tidak...!!!” jawab seseorang yang tidak terlihat. “Kau kini berada di rumah sakit, saat hujan turun kau tersambar petir dan kau sudah koma selama tiga bulan!”
“Apa... Ibuuu!!!” teriakku dengan kencang.
Apakah ini jawaban dari Tuhan atas segala doa ku yang dikirimkan lewat hujan kala itu?
dan mungkinkah ini adalah salah satu pemberian Tuhan pada ku akan kesempatan untuk bertaubat?****




SEKIAN
           

Cerita Mengenai Pulpen


Saksi Bisu Pengobat Rindu
Oleh: Rizal Ariffin

Tidak jangan...!!!
Jangan kau musnahkan aku dengan kau mencampakkan ku sendiri tanpa ada guna. Dikala senang aku selalu menemanimu dan dikala susah aku jadi pelampiasanmu. Aku memang tidak memiliki mata untuk selalu memandangmu, aku memang tidak memiliki tangan untuk selalu menepuk pundakmu disaat kau sedih, bahkan aku tidak memiliki mulut untuk bicara dan selalu menghiburmu di saat kau kesepian. Aku hanya punya jarum tajam berwarna perak yang berfungsi sebagai alat sekresi dalam tubuhku. Tenanglah sobat, cairan hitam dalam tubuhku ini tidak berbahaya. Bahkan sebaliknya, ia sangat berguna untuk menghilangkan kesedihanmu, menjadi saksi bisu dalam setiap langkah hidupmu sehari-hari. Mediaku berbicara adalah cairan yang mampu kau kendalikan dan kau gunaan sesuka hatimuu, yang mampu mengukir sejuta coretan masa lalu yang akan menjadi kenangan serta guru terbesar di masa depan. Perkenalkanlah aku Faster.
Bagaikan manusia aku juga memiliki akhir atau kematian.dimana aku nantinya akan kau campakan. Aku memnag tidak punya hati, tapi sesungguhnya aku memiliki perasaan. Sama sepertimu yang sekarang sedang bersedih dan galau. Pernah dahulu ketika kau campakkan aku dan kau buang aku disaat kau sedang marah, dan untungnya aku ditemukan oleh kekasihmu. Dari situlah aku mulai membandingkan bagaimna sifat dan perilakumu dengan kekasihmu. Banyak sekali cerita yang ingin ku bagi, semua berawal ketika aku dipungut dan disandingkan dengan seorang gadis cantik memakai gaun merah marun.
“Hai gadis, kau bak bidadari yang turun dari langit dan kehilangan sepasang sayapmu”, kataku mengngaguminya.
“Biasa saja, sebenarnya aku sama sepertimu hanya saja aku dirawat dengan baik oleh pemilikku”, ujarnya dengan tersipu malu membalas pernyataanku.
“Memangnya kenapa pemilikmu? Ia sesungguhnya adalah kekasih dari pemilikku yang kejam.”
“Kejam katamu? Pantas saja kalau begitu!”
“Iya kejam, ia sangat egois yang selalu tidak mau peduli akan orang lain bahkan dengan kekasihnya sendiri! Memangnya ada apa?”
“Iya pantas, pemilikku setiap saat dan detik selalu menangis padaku seolah-olah berbicara denganku, aku tahu betul bagaimna perasaannya hingga aku akhirnya menangis dengan menumpahkan banyak air mata hitam pada curhatannya”.
“Lantas, apa yang ia lakukan padamu?”
“Memang benar ia sangat tulus dan baik, aku dirawatnya dan ia malah yang mengusap air mataku dan menggantikan bajuku dengan baju baru yang ku pakai sekarang.”
“Owhh... pantas kau terlihat bak bidadari, ternyata pemilikmu sangatlah mulia, ia masih sempat memahami perasaan benda lain selain perasaannya sendiri.”
Dari percakapanku dengan kenko, wanita kurus bergaun merah muda milik kekasih yang memilikiku, aku sangat tahu bahwa yang sebenarnya salah adalah pemilikku. Keegoisannya yang membuat semua menjadi terbalik, yang mimpi indah jadi mimpi buruk dan hal menyenangkan jadi membosankan. Setitik nila jatuh dalam air jernih, maka ia akan merusak susu sebelanga, itulah kalimat yang kutulis dalam memo diatas meja si pemilik kenko. Merekalah yang bisa menyelesaikan masalah masing-masing dan kedewasaan memang diperlukan disini.
Selang beberapa menit datanglah pemilik kenko yang tercengang melihat tulisan dalam kertas memo diatas mejanya, “Siapa yang menuliskan nasihat ini kepadaku?” ujarnya dengan nada lirih karena diimbangi dengan derai butiran air bening yang jatuh menetes tak terbendung. Memang benar kalimat ini untukku, hanya karena keegoisan semua cerita indah masa lalu kini hancur tak berbekas.
Aku dan kenko menjadi ikut sedih, hingga akhirnya malam pun tiba dan inilah kesempatanku untuk mengungapkan sebuah kebenaran. Kutuliskan sebuah kalimat dalam kertas emo sekali lagi tanpa diketahui olehnya.
“Dengan hati seseorang dapat merasakan cinta dan dengan cinta seharusnya ada kebahagiaan, jika semua telah ternodai oleh keegoisan maka hancurlah cinta yang kau rajut indah selama ini.”
“Hai Faster, apa yang kau lakukan?”
Suara keras itu mengngagetkanku. “lho kamu terbangun ya, aku tidak berbuat apa-apa, aku hanya ingin berbuat sesuatu!”
“Berbuat untuk apa?”
“Berbuat untuk mengobati rindu wanita pemilikmu yang sebenarnya tidak salah, mereka hanya kurang mau terbuka satu sama lain.”
“Memang benar, baiklah mari ku bantu!”
Dengan Kenko ku mulai lagi menulis memo untuknya, dengan harapan mereka berdua bisa akur lagi dan kembali merajut indahnya cinta bersama serta saling menutupi kekurangan satu sama lain. “Walaupun kami benda mati yang tidak bisa berbicara dan berteriak, kami bisa menulis dan dengan tulisan ini kami harap kalian berdua bisa bersatu walau kami telah tiada nanti karena kehabisan darah hitam kami.” Itulah kata-kata ku terakhir sebelum aku dan kenko habis dan mati.****

Jumat, 10 Februari 2012

KISAH cinta yangg perlu di CONTOH!!!

Gw mo share kisah nyata tentang temen Gw dalam hal mengejar cintanya. Kisah ini bagi gw dulu suka jadi semangat dalam mengejar cinta. Begini kisahnya. Gw punya temen katakan saja bernama Bagus. Meskipun namanya begitu, tapi nasibnya tidak sebagus namanya. Bagus ini adalah seorang anak yatim piatu sejak SD. Orang tuanya sendiri sebenarnya tergolong cukup mampu walau untuk ukuran desa. Ketika ditinggalkan orang tuanya, dia diwarisi sawah yang luas dan sebuah kios penjualan pupuk. Maklum di desa. Satu satunya yang mengasuhnya adalah kakaknya yang udah berkeluarga. Kakaknnya adalah seorang pedagang di pasar. Hingga cara mendidiknya pun keras, untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Semasa SMP dimana anak2 suka main-main Bagus menghabiskan waktu mengurus sawah dan mejaga kios pupuknya. Karena tidak bergaul itulah Bagus selalu menjadi `looser` diantara kami. Bagus mendapat ceng-cengan `Lemes` karena pernah mau pingsan ketika ikut Karate bersama kami. Waktu itu tahun 1998-an karate merupakan kegiatan yang elit di lingkungan kami. Ketika SMU Bagus lemes pun hanya mampu bersekolah di SMA swasta yang nggak bonafid. Maklum Bagus orangnya nggak terlalu pinter. Karena selalu bergaul dengan orang-orang yang lebih dewasa, seleranya pun jadi aneh. Ketika waktu itu motor Suzuki Crystal adalah motor favorit, Bagus malah senang dengan motor tua. Waktu berlalu Baguspun berhasil lulus SMA walau dengan susah payah. Disaat itulah gw sering main lg bersama Bagus. Sebagaimana layaknya remaja pada umumnya Bagus juga mengalami apa yang dinamakan jatuh cinta. Dia jatuh cinta dengan seorang mahasiswi Akper Jogja katakan saja namanya Rini. Rini ini orangnya putih dan cantik sekali. Sedangkan Bagus tampangnya sangat pas-pasan. Selain bertampang pas-pasan cara berdandan, membawa dirinya pun sedikit berbeda (kalo gak mau dibilang aneh). Dia suka memakai jaket kulit rumbai-rumbai begaya ala biker. Waktu itu gaya biker belum terlalu lazim untuk anak muda. Rini sendiri sebenarnya juga tidak mengenal Bagus pada awalnya. Bagus mengenal Rini ketika bertemu di RS PKU yogja tempat Rini praktek. Perkenalan itu membuat Bagus nggak bisa tidur dan selalu melamun. Sedangkan Rini tentu saja nggak terlalu peduli dengan Bagus, maklum Rini sudah punya cowok dikota asalnya, surabaya. Dengan berbagai cara, Bagus akhirnya menemukan alamat kost Rini. Dan mulailah Bagus dengan sebuah kegiatan baru yang namanya Apel. Apel pertama jelas sangat canggung, maklum Rini sudah lupa dengan Bagus. Bagus pura pura menanyakan obat kakaknya, karena nggak mau ke rumah sakit. Pembicaraan jelas sangat terbatas. Karena Rini sangat asing dengan tamu anehnya malam itu. Sempat Bagus melihat foto pacar Rini ketika dengan pura-pura Rini membuka dompetnya. Rini sengaja melakukan ittu untuk memberi batasan kepada Bagus. Apel kedua dilakukan Bagus dengan lebih semangat. Meski dia tahu Rini sudah mempunyai pacar, Bagus menganggap foto di dompet Rini adalah gambar Andy Lau saja.. meski ganteng, tapi kan jauh di surabaya.. katanya kepada gw suatu saat. Bagus semangat karena kenyataan Rini malem minggu selalu di rumah. Paling tidak kalau Bagus pergi malem minggu, kalau ditanya, Bagus bisa dengan bangga menjawab.. Apel! Perasaan di dada Bagus makin menggebu, Wajah Rini yang selalu membayangi membuatnya ingin segera mengutarakan perasaannya. Akhirnya malam itu, Bagus datang dengan motor tuanya, dengan dandanan biker, dan rambut dikuncir, mengapeli Rini di kostnya. Setelah berbincang cukup, basa basi cukup, Bagus mulai mencurahkan perasaannya. " Rini, tentunya kamu tau kenapa aku sering kesini malem minggu.." kata Bagus. " Apa...?" Rini benar benar nggak tau. " Begini Rin, Aku cinta padamu.." Bagus dengan terbata mengutarakan cintanya. Mendengar ungkapan cinta Bagus itu, Rini meludah. Perasaan Bagus tentu saja seperti disengat kalajengking, namun dia menahnnya. Dengan menahan emosi Rini ber ucap.. " Gus, Kamu kan tahu aku sudah punya cowok, dan yang kedua aku memang nggak pernah suka sama kamu..." Bagus terdiam.. Hatinya remuk diperlakukan begitu rupa. Ekspresi meludah sangatlah melukai perasaannya. Tapi hebatnya Bagus, dia malah nyengir dan bilang: " Aku nggak heran, Rin. Cewek yang mukanya lebih jelek dari kamu saja selalu menolakku " katanya. Tentu saja Rini tambah emosi dan jijik. Apel kedua Bagus hancur berantakan, seberantakan perasaan Bagus yang hancur lebur. Seminggu dalam linglung di lalui Bagus di kios buluk tempatnya jualan pupuk. Akhirnya malem minggu ketiga datang juga. Bagus bimbang untuk datang ke kost Rini atau tidak malam itu. Tentunya peristiwa minggu lalu masih menyisakan sakit hati. Setelah berpikir.. akhirnya diputuskan.. untuk tetap datang ke kost-an Rini. Ketika sampai di kost Rini, teman kost Rini bilang, Rini sedang pergi dengan pacarnya yang baru datang dari Surabaya. Hati Bagus kembali remuk. Pulanglah dia dengan galau. Minggu berikutnya Bagus tetap ngotot datang ke kost-an Rini. Dengan alasan yang sama teman kost Rini menyampaikan alasan Rini nggak ada di tempat. Peristiwa itu terjadi berulang-ulang sampai sebulan lebih. Pada akhirnya Bagus menyadari, bahwa Rini hanyalah berusaha menghindar darinya. Bahwa pacarnya sebenarnya nggak pernah datang. Bagi banyak cowok, peristiwa seperti itu pastilah membuat semangatnya loyo. Ketika menemui penolakan yang sebegitu rupa, pasti langsung kendor, atau marah, dan bilang `emang cewek cuman loe doang.. cuih..` mungkin begitu. Namun berbeda dengan Bagus. Apel `sepihak` yang dilakukan Bagus lemes, sudah menjadi sebuah kebiasaan, sperti halnya rutinitasnya di kios atau di sawah. Kali ini dengan sedikit strategi, Bagus berusaha apel lagi. Bagus merubah jadwal datangnya. Dia datang lebih awal pada malam minggu itu. Karena berbeda dengan biasanya, Rini nggak bisa mengelak. Mau tak mau dia harus menemui Bagus. Pertemuan malam itu sangatlah kikuk. Rini hanya cemberut saja, sedang Bagus berusaha mengajak berbicara tapi topiknya sangat basi. Maklum Bagus tidaklah pintar dalam hal merayu. Setelah bermenit menit mati gaya, Bagus pun pulang. Hatinya sedikit senang karena akhirnya bisa bertemu Rini. Sedangkan Rini tentu saja makin jengkel. Minggu selanjutnya Bagus tetap apel, Rini masih canggung dan malas-malasan. Sampai suatu ketika entah di minggu yang ke berapa Rini mulai bisa ngobrol dengan Bagus. Mungkin hari itu mood Rini sedang baik. " Gus, kamu ini ngapain sih kesini terus? Bukannya sudah jelas jelas aku menolak cintamu? " Kata Rini berterus terang. Bagus bingung mau menjawab apa. Akhirnya dengan polos dia jawab: " Rin, kamu kan tau kalau aku suka dengan kamu. Kalau aku kesini ya karena aku kangen dengan kamu. Masalah kamu nggak suka dengan aku, itu hakmu. Kalau kamu nggak suka aku kesini ya tinggal bilang saja aku pasti pergi " Kata Bagus.. " Tapi nyatanya kamu datang terus, biarpun aku menghindar " Kata Rini " Habisnya aku kangen terus sih.." Kata Bagus. Entah kenapa Rini saat itu tertawa, dia memandang Bagus bukan lagi seorang asing yang perlu dihindari. Rini menyadari Bagus bukanlah orang yang membahayakn dirinya atau egonya. Mulai peristiwa itu Rini makin biasa dengan Bagus. Terkadang Rini terkesan memanfaatkan Bagus. Bagus yang selalu available, Bagus yang bisa jadi teman curhatnya ketika jengkel dengan pacarnya, Bagus yang bisa dia suruh-suruh untuk kepentingan pribadinya. Rini merasa batas antara dia dan Bagus sangat jelas, bahwa dia nggak suka dengan Bagus, biarpun Bagus suka dengan dia. Rini cukup nyaman dengan itu. Kedekatannya dengan Bagus ternyata telah menjadikan sebuah ketergantungan. Rini terkadang nggak bisa apa-apa kalau Bagus tidak ada. Rini terlalu mengandalkan Bagus, karena memang Bagus selalu available dan bisa diandalkan untuk Rini. Sampai suatu saat... .. Malam itu Bagus habis mengantarkan Rini dari tempat temannya dan berbelanja di Malioboro Yogja. Tiba tiba motor tua yang dikendarai Bagus dan Rini berhenti diatas sebuah jembatan layang. Rini sedikit kaget. Dia bertanya: " Ada apa Gus? Motormu mogok lagi?" tanya Rini "... Rin, aku mau bilang sesuatu pada kamu.. " Kata Bagus. " Kenapa dimarahi kakak lagi ?" Rini meledek Bagus. " Begini... aku pingin kamu dengerin aku.. " Bagus terbata "....." Rini sedikit risau " Aku mau bilang sesuatu untuk terakhir kali.. Kalau kamu tahu apa yang aku rasakan selama ini, aku ini sangat capek memendam ini semua. Ketika aku harus mendengarkan keluhanmu tentang pacarmu, ketika aku harus mengantarkanmu untuk bertemu pacarmu, ketika aku harus membelikan oleh-oleh untuk pacarmu.. sebenarnya hatiku sangat pedih. Setebal-tebalnya mukaku aku masih punya perasaan. Aku nggak bisa lagi melakukan ini semua dengan beban seperti ini. Aku mau bilang sekali lagi sama kamu, kalau aku mencintaimu.. aku ingin kamu jadi pacarku. Namun jika kamu tidak bersedia aku tidak apa-apa. Mungkin sudah jadi rejekiku. Aku nggak akan mengganggu kamu lagi selamanya..." Kata Bagus dengan nada sangat rendah. Mendengar perkataan Bagus, seketika Rini menangis. Dia nggak bisa berkata kata apapun. Dia minta waktu beberapa hari. Baguspun kemudian mengiyakan. Stetlah beberapa hari Bagus diminta menemui Rini. Kali ini sore hari sehabis kuliah Rini. Di sebuah meja warung makan, Rini bercerita bahwa di barusaja memutus hubungan dengan pacarnya. Ternyata mereka jarang banget bertemu. Ternyata Rini menyadari bahwa selama ini apa yang dia butuhkan dari seorang kekasih ada pada diri Bagus. Ternyata dia menyadari telah berbuat sewenang2 terhadap Bagus. Dan mulai detik itu Bagus mempunyai seorang kekasih yang sangat cantik. Bahkan tercantik dintara cewek-cewek kami..