Senin, 21 Mei 2012

Cerita Mengenai Pulpen


Saksi Bisu Pengobat Rindu
Oleh: Rizal Ariffin

Tidak jangan...!!!
Jangan kau musnahkan aku dengan kau mencampakkan ku sendiri tanpa ada guna. Dikala senang aku selalu menemanimu dan dikala susah aku jadi pelampiasanmu. Aku memang tidak memiliki mata untuk selalu memandangmu, aku memang tidak memiliki tangan untuk selalu menepuk pundakmu disaat kau sedih, bahkan aku tidak memiliki mulut untuk bicara dan selalu menghiburmu di saat kau kesepian. Aku hanya punya jarum tajam berwarna perak yang berfungsi sebagai alat sekresi dalam tubuhku. Tenanglah sobat, cairan hitam dalam tubuhku ini tidak berbahaya. Bahkan sebaliknya, ia sangat berguna untuk menghilangkan kesedihanmu, menjadi saksi bisu dalam setiap langkah hidupmu sehari-hari. Mediaku berbicara adalah cairan yang mampu kau kendalikan dan kau gunaan sesuka hatimuu, yang mampu mengukir sejuta coretan masa lalu yang akan menjadi kenangan serta guru terbesar di masa depan. Perkenalkanlah aku Faster.
Bagaikan manusia aku juga memiliki akhir atau kematian.dimana aku nantinya akan kau campakan. Aku memnag tidak punya hati, tapi sesungguhnya aku memiliki perasaan. Sama sepertimu yang sekarang sedang bersedih dan galau. Pernah dahulu ketika kau campakkan aku dan kau buang aku disaat kau sedang marah, dan untungnya aku ditemukan oleh kekasihmu. Dari situlah aku mulai membandingkan bagaimna sifat dan perilakumu dengan kekasihmu. Banyak sekali cerita yang ingin ku bagi, semua berawal ketika aku dipungut dan disandingkan dengan seorang gadis cantik memakai gaun merah marun.
“Hai gadis, kau bak bidadari yang turun dari langit dan kehilangan sepasang sayapmu”, kataku mengngaguminya.
“Biasa saja, sebenarnya aku sama sepertimu hanya saja aku dirawat dengan baik oleh pemilikku”, ujarnya dengan tersipu malu membalas pernyataanku.
“Memangnya kenapa pemilikmu? Ia sesungguhnya adalah kekasih dari pemilikku yang kejam.”
“Kejam katamu? Pantas saja kalau begitu!”
“Iya kejam, ia sangat egois yang selalu tidak mau peduli akan orang lain bahkan dengan kekasihnya sendiri! Memangnya ada apa?”
“Iya pantas, pemilikku setiap saat dan detik selalu menangis padaku seolah-olah berbicara denganku, aku tahu betul bagaimna perasaannya hingga aku akhirnya menangis dengan menumpahkan banyak air mata hitam pada curhatannya”.
“Lantas, apa yang ia lakukan padamu?”
“Memang benar ia sangat tulus dan baik, aku dirawatnya dan ia malah yang mengusap air mataku dan menggantikan bajuku dengan baju baru yang ku pakai sekarang.”
“Owhh... pantas kau terlihat bak bidadari, ternyata pemilikmu sangatlah mulia, ia masih sempat memahami perasaan benda lain selain perasaannya sendiri.”
Dari percakapanku dengan kenko, wanita kurus bergaun merah muda milik kekasih yang memilikiku, aku sangat tahu bahwa yang sebenarnya salah adalah pemilikku. Keegoisannya yang membuat semua menjadi terbalik, yang mimpi indah jadi mimpi buruk dan hal menyenangkan jadi membosankan. Setitik nila jatuh dalam air jernih, maka ia akan merusak susu sebelanga, itulah kalimat yang kutulis dalam memo diatas meja si pemilik kenko. Merekalah yang bisa menyelesaikan masalah masing-masing dan kedewasaan memang diperlukan disini.
Selang beberapa menit datanglah pemilik kenko yang tercengang melihat tulisan dalam kertas memo diatas mejanya, “Siapa yang menuliskan nasihat ini kepadaku?” ujarnya dengan nada lirih karena diimbangi dengan derai butiran air bening yang jatuh menetes tak terbendung. Memang benar kalimat ini untukku, hanya karena keegoisan semua cerita indah masa lalu kini hancur tak berbekas.
Aku dan kenko menjadi ikut sedih, hingga akhirnya malam pun tiba dan inilah kesempatanku untuk mengungapkan sebuah kebenaran. Kutuliskan sebuah kalimat dalam kertas emo sekali lagi tanpa diketahui olehnya.
“Dengan hati seseorang dapat merasakan cinta dan dengan cinta seharusnya ada kebahagiaan, jika semua telah ternodai oleh keegoisan maka hancurlah cinta yang kau rajut indah selama ini.”
“Hai Faster, apa yang kau lakukan?”
Suara keras itu mengngagetkanku. “lho kamu terbangun ya, aku tidak berbuat apa-apa, aku hanya ingin berbuat sesuatu!”
“Berbuat untuk apa?”
“Berbuat untuk mengobati rindu wanita pemilikmu yang sebenarnya tidak salah, mereka hanya kurang mau terbuka satu sama lain.”
“Memang benar, baiklah mari ku bantu!”
Dengan Kenko ku mulai lagi menulis memo untuknya, dengan harapan mereka berdua bisa akur lagi dan kembali merajut indahnya cinta bersama serta saling menutupi kekurangan satu sama lain. “Walaupun kami benda mati yang tidak bisa berbicara dan berteriak, kami bisa menulis dan dengan tulisan ini kami harap kalian berdua bisa bersatu walau kami telah tiada nanti karena kehabisan darah hitam kami.” Itulah kata-kata ku terakhir sebelum aku dan kenko habis dan mati.****

Jumat, 10 Februari 2012

KISAH cinta yangg perlu di CONTOH!!!

Gw mo share kisah nyata tentang temen Gw dalam hal mengejar cintanya. Kisah ini bagi gw dulu suka jadi semangat dalam mengejar cinta. Begini kisahnya. Gw punya temen katakan saja bernama Bagus. Meskipun namanya begitu, tapi nasibnya tidak sebagus namanya. Bagus ini adalah seorang anak yatim piatu sejak SD. Orang tuanya sendiri sebenarnya tergolong cukup mampu walau untuk ukuran desa. Ketika ditinggalkan orang tuanya, dia diwarisi sawah yang luas dan sebuah kios penjualan pupuk. Maklum di desa. Satu satunya yang mengasuhnya adalah kakaknya yang udah berkeluarga. Kakaknnya adalah seorang pedagang di pasar. Hingga cara mendidiknya pun keras, untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Semasa SMP dimana anak2 suka main-main Bagus menghabiskan waktu mengurus sawah dan mejaga kios pupuknya. Karena tidak bergaul itulah Bagus selalu menjadi `looser` diantara kami. Bagus mendapat ceng-cengan `Lemes` karena pernah mau pingsan ketika ikut Karate bersama kami. Waktu itu tahun 1998-an karate merupakan kegiatan yang elit di lingkungan kami. Ketika SMU Bagus lemes pun hanya mampu bersekolah di SMA swasta yang nggak bonafid. Maklum Bagus orangnya nggak terlalu pinter. Karena selalu bergaul dengan orang-orang yang lebih dewasa, seleranya pun jadi aneh. Ketika waktu itu motor Suzuki Crystal adalah motor favorit, Bagus malah senang dengan motor tua. Waktu berlalu Baguspun berhasil lulus SMA walau dengan susah payah. Disaat itulah gw sering main lg bersama Bagus. Sebagaimana layaknya remaja pada umumnya Bagus juga mengalami apa yang dinamakan jatuh cinta. Dia jatuh cinta dengan seorang mahasiswi Akper Jogja katakan saja namanya Rini. Rini ini orangnya putih dan cantik sekali. Sedangkan Bagus tampangnya sangat pas-pasan. Selain bertampang pas-pasan cara berdandan, membawa dirinya pun sedikit berbeda (kalo gak mau dibilang aneh). Dia suka memakai jaket kulit rumbai-rumbai begaya ala biker. Waktu itu gaya biker belum terlalu lazim untuk anak muda. Rini sendiri sebenarnya juga tidak mengenal Bagus pada awalnya. Bagus mengenal Rini ketika bertemu di RS PKU yogja tempat Rini praktek. Perkenalan itu membuat Bagus nggak bisa tidur dan selalu melamun. Sedangkan Rini tentu saja nggak terlalu peduli dengan Bagus, maklum Rini sudah punya cowok dikota asalnya, surabaya. Dengan berbagai cara, Bagus akhirnya menemukan alamat kost Rini. Dan mulailah Bagus dengan sebuah kegiatan baru yang namanya Apel. Apel pertama jelas sangat canggung, maklum Rini sudah lupa dengan Bagus. Bagus pura pura menanyakan obat kakaknya, karena nggak mau ke rumah sakit. Pembicaraan jelas sangat terbatas. Karena Rini sangat asing dengan tamu anehnya malam itu. Sempat Bagus melihat foto pacar Rini ketika dengan pura-pura Rini membuka dompetnya. Rini sengaja melakukan ittu untuk memberi batasan kepada Bagus. Apel kedua dilakukan Bagus dengan lebih semangat. Meski dia tahu Rini sudah mempunyai pacar, Bagus menganggap foto di dompet Rini adalah gambar Andy Lau saja.. meski ganteng, tapi kan jauh di surabaya.. katanya kepada gw suatu saat. Bagus semangat karena kenyataan Rini malem minggu selalu di rumah. Paling tidak kalau Bagus pergi malem minggu, kalau ditanya, Bagus bisa dengan bangga menjawab.. Apel! Perasaan di dada Bagus makin menggebu, Wajah Rini yang selalu membayangi membuatnya ingin segera mengutarakan perasaannya. Akhirnya malam itu, Bagus datang dengan motor tuanya, dengan dandanan biker, dan rambut dikuncir, mengapeli Rini di kostnya. Setelah berbincang cukup, basa basi cukup, Bagus mulai mencurahkan perasaannya. " Rini, tentunya kamu tau kenapa aku sering kesini malem minggu.." kata Bagus. " Apa...?" Rini benar benar nggak tau. " Begini Rin, Aku cinta padamu.." Bagus dengan terbata mengutarakan cintanya. Mendengar ungkapan cinta Bagus itu, Rini meludah. Perasaan Bagus tentu saja seperti disengat kalajengking, namun dia menahnnya. Dengan menahan emosi Rini ber ucap.. " Gus, Kamu kan tahu aku sudah punya cowok, dan yang kedua aku memang nggak pernah suka sama kamu..." Bagus terdiam.. Hatinya remuk diperlakukan begitu rupa. Ekspresi meludah sangatlah melukai perasaannya. Tapi hebatnya Bagus, dia malah nyengir dan bilang: " Aku nggak heran, Rin. Cewek yang mukanya lebih jelek dari kamu saja selalu menolakku " katanya. Tentu saja Rini tambah emosi dan jijik. Apel kedua Bagus hancur berantakan, seberantakan perasaan Bagus yang hancur lebur. Seminggu dalam linglung di lalui Bagus di kios buluk tempatnya jualan pupuk. Akhirnya malem minggu ketiga datang juga. Bagus bimbang untuk datang ke kost Rini atau tidak malam itu. Tentunya peristiwa minggu lalu masih menyisakan sakit hati. Setelah berpikir.. akhirnya diputuskan.. untuk tetap datang ke kost-an Rini. Ketika sampai di kost Rini, teman kost Rini bilang, Rini sedang pergi dengan pacarnya yang baru datang dari Surabaya. Hati Bagus kembali remuk. Pulanglah dia dengan galau. Minggu berikutnya Bagus tetap ngotot datang ke kost-an Rini. Dengan alasan yang sama teman kost Rini menyampaikan alasan Rini nggak ada di tempat. Peristiwa itu terjadi berulang-ulang sampai sebulan lebih. Pada akhirnya Bagus menyadari, bahwa Rini hanyalah berusaha menghindar darinya. Bahwa pacarnya sebenarnya nggak pernah datang. Bagi banyak cowok, peristiwa seperti itu pastilah membuat semangatnya loyo. Ketika menemui penolakan yang sebegitu rupa, pasti langsung kendor, atau marah, dan bilang `emang cewek cuman loe doang.. cuih..` mungkin begitu. Namun berbeda dengan Bagus. Apel `sepihak` yang dilakukan Bagus lemes, sudah menjadi sebuah kebiasaan, sperti halnya rutinitasnya di kios atau di sawah. Kali ini dengan sedikit strategi, Bagus berusaha apel lagi. Bagus merubah jadwal datangnya. Dia datang lebih awal pada malam minggu itu. Karena berbeda dengan biasanya, Rini nggak bisa mengelak. Mau tak mau dia harus menemui Bagus. Pertemuan malam itu sangatlah kikuk. Rini hanya cemberut saja, sedang Bagus berusaha mengajak berbicara tapi topiknya sangat basi. Maklum Bagus tidaklah pintar dalam hal merayu. Setelah bermenit menit mati gaya, Bagus pun pulang. Hatinya sedikit senang karena akhirnya bisa bertemu Rini. Sedangkan Rini tentu saja makin jengkel. Minggu selanjutnya Bagus tetap apel, Rini masih canggung dan malas-malasan. Sampai suatu ketika entah di minggu yang ke berapa Rini mulai bisa ngobrol dengan Bagus. Mungkin hari itu mood Rini sedang baik. " Gus, kamu ini ngapain sih kesini terus? Bukannya sudah jelas jelas aku menolak cintamu? " Kata Rini berterus terang. Bagus bingung mau menjawab apa. Akhirnya dengan polos dia jawab: " Rin, kamu kan tau kalau aku suka dengan kamu. Kalau aku kesini ya karena aku kangen dengan kamu. Masalah kamu nggak suka dengan aku, itu hakmu. Kalau kamu nggak suka aku kesini ya tinggal bilang saja aku pasti pergi " Kata Bagus.. " Tapi nyatanya kamu datang terus, biarpun aku menghindar " Kata Rini " Habisnya aku kangen terus sih.." Kata Bagus. Entah kenapa Rini saat itu tertawa, dia memandang Bagus bukan lagi seorang asing yang perlu dihindari. Rini menyadari Bagus bukanlah orang yang membahayakn dirinya atau egonya. Mulai peristiwa itu Rini makin biasa dengan Bagus. Terkadang Rini terkesan memanfaatkan Bagus. Bagus yang selalu available, Bagus yang bisa jadi teman curhatnya ketika jengkel dengan pacarnya, Bagus yang bisa dia suruh-suruh untuk kepentingan pribadinya. Rini merasa batas antara dia dan Bagus sangat jelas, bahwa dia nggak suka dengan Bagus, biarpun Bagus suka dengan dia. Rini cukup nyaman dengan itu. Kedekatannya dengan Bagus ternyata telah menjadikan sebuah ketergantungan. Rini terkadang nggak bisa apa-apa kalau Bagus tidak ada. Rini terlalu mengandalkan Bagus, karena memang Bagus selalu available dan bisa diandalkan untuk Rini. Sampai suatu saat... .. Malam itu Bagus habis mengantarkan Rini dari tempat temannya dan berbelanja di Malioboro Yogja. Tiba tiba motor tua yang dikendarai Bagus dan Rini berhenti diatas sebuah jembatan layang. Rini sedikit kaget. Dia bertanya: " Ada apa Gus? Motormu mogok lagi?" tanya Rini "... Rin, aku mau bilang sesuatu pada kamu.. " Kata Bagus. " Kenapa dimarahi kakak lagi ?" Rini meledek Bagus. " Begini... aku pingin kamu dengerin aku.. " Bagus terbata "....." Rini sedikit risau " Aku mau bilang sesuatu untuk terakhir kali.. Kalau kamu tahu apa yang aku rasakan selama ini, aku ini sangat capek memendam ini semua. Ketika aku harus mendengarkan keluhanmu tentang pacarmu, ketika aku harus mengantarkanmu untuk bertemu pacarmu, ketika aku harus membelikan oleh-oleh untuk pacarmu.. sebenarnya hatiku sangat pedih. Setebal-tebalnya mukaku aku masih punya perasaan. Aku nggak bisa lagi melakukan ini semua dengan beban seperti ini. Aku mau bilang sekali lagi sama kamu, kalau aku mencintaimu.. aku ingin kamu jadi pacarku. Namun jika kamu tidak bersedia aku tidak apa-apa. Mungkin sudah jadi rejekiku. Aku nggak akan mengganggu kamu lagi selamanya..." Kata Bagus dengan nada sangat rendah. Mendengar perkataan Bagus, seketika Rini menangis. Dia nggak bisa berkata kata apapun. Dia minta waktu beberapa hari. Baguspun kemudian mengiyakan. Stetlah beberapa hari Bagus diminta menemui Rini. Kali ini sore hari sehabis kuliah Rini. Di sebuah meja warung makan, Rini bercerita bahwa di barusaja memutus hubungan dengan pacarnya. Ternyata mereka jarang banget bertemu. Ternyata Rini menyadari bahwa selama ini apa yang dia butuhkan dari seorang kekasih ada pada diri Bagus. Ternyata dia menyadari telah berbuat sewenang2 terhadap Bagus. Dan mulai detik itu Bagus mempunyai seorang kekasih yang sangat cantik. Bahkan tercantik dintara cewek-cewek kami..

Selasa, 10 Januari 2012

Sahabat...

      



      Satu demi satu, motor yang terparkir di garasi samping rumah aku keluarkan ke teras depan. Memang hari masih pagi, teman-teman yang lain masih tertidur dengan pulasnya. Kecuali Rama yang semenjak shubuh tadi pergi untuk mengantar koran, dia memang nyambi kerja sebagai loper koran. Jam di dinding masih menjukkan pukul enam kurang lima belas menit. Tak mengherankan memang, tadi malam kita begadangan sampai adzan shubuh terdengar. Entah mengapa, tiba-tiba kami berkeinginan untuk sekedar berbagi cerita. Sesuatu yang sudah mulai jarang kita lakukan. Terutama ketika berbagai macam praktikum dan laporan sudah mulai menerjang tanpa henti. Memang berbagi cerita menjadi hal yang sering kami lakukan ketika memasuki masa awal-awal kuliah.

Kami tinggal berenam di rumah kontrakan ini. Aku dan tiga temanku, Ahmad, Dzakir dan Rifai, memang sudah sahabat lama. Kami berteman semenjak masih duduk di bangku SMA. Sedangkan satu orang yang lain, Ivan, adalah teman kuliahku satu angkatan dan satunya lagi, Rama, teman kuliah dari Dzakir. Rama dan Ivan sebenarnya kami ajak tinggal di kontrakan ini hanya untuk memenuhi kuota dan memperingan biaya urunan kontrakan. Lumayan, kami mengontrak rumah mungil dengan tiga kamar ini empat juta pertahunnya. Kami sudah terhitung satu tahun lewat delapan bulan tinggal di rumah ini.

Pertama kali memang hubungan antara kami berempat dengan Ivan dan Rama kurang begitu dekat. Namun seiring berjalannya waktu, mereka berdua pun akhirnya bisa dekat dengan kami berempat. Semenjak itulah, kami berenam suka berbagi cerita.

Kami berenam kebetulan sama-sama kuliah di UGM. Aku dan Ivan kebetulan kuliah di Jurusan Ilmu Komputer, Fakultas MIPA. Dzakir dan Rama kuliah di Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian. Sedangkan Ahmad kuliah di Fakultas Filsafat dan Rifai kuliah di Fakultas Hukum.

**

Tadi malam sebenarnya kejadian tersebut berlangsung mengalir. Berawal dari aku dan Ivan nonton bareng pertandingan sepakbola Liga Inggris antara Chelsea lawan Manchester United. Kebetulan aku penggemar berat Chelsea, sedangkan Ivan penggemar berat Manchester United. Agar suasana nonton jadi lebih seru, kami bertaruh kecil-kecilan. Yang menang dapat jatah dipijat oleh yang kalah. Seusai nonton, kami berdua memasak mie, yang ternyata diikuti oleh yang lainnya, kecuali oleh Rama. Memang selama beberapa hari ini, Rama terlihat murung dan suka menyendiri. Beberapa kali kami secara bergantian bertanya, namun tak satupun jawaban kami dapat.

Acara makan mie bersama akhirnya berlanjut menjadi acara curhat bersama. Mulai dari praktikum yang gagal, dosen yang galak, makanan di kantin kampus yang semakin hari semakin mahal, sampai kisah cinta Ivan yang selalu kandas sebelum sempat “proklamasi”.

Selama kami curhat, Rama memilih untuk tiduran di kamarnya. Tak bergabung dengan kami. Sampai akhirnya, Dzakir yang sekamar dengan Rama, lebih memilih tidur di karpet ruang tengah.

**

Sesuai kesepakatan tadi malam, hari ini kami berencana untuk jalan-jalan bersama ke pantai. Meskipun hari minggu, kami kesulitan untuk bisa menghabiskan hari bersama seperti ini. Kami berenam, memang punya aktifitas lain di luar kuliah. Aku, Rama, Dzakir dan Rifai memilih untuk aktif di lembaga intra kampus. Sedangkan Ivan dan Ahmad memilih aktif di lembaga ekstra kampus. Rencana dadakan jalan-jalan ke pantai hari ini saja, membuat kami harus menunda agenda masing-masing. Hari ini saja, aku sudah berjanji dengan teman-teman BEM untuk memperbaiki majalah dinding. Tak apalah, sekali-sekali kita perlu untuk sekedar menyenangkan diri sendiri.

Akhirnya pada pukul sepuluh kurang lima menit, kami berangkat menuju pantai Depok. Pantai Depok terletak di sebelah barat Pantai Parangtritis. Di Pantai Depok juga terdapat Tempat Pelelangan Ikan. Sempat kami mengajak Rama ikut serta, tetapi ia enggan untuk ikut. Rama lebih memilih tinggal di kontrakan. “Biar saya di sini saja, jaga kontrakan. Khawatir kalau ada apa-apa”, jawabnya. Dengan tiga motor kami berangkat bersama-sama.

Memang, keluarga Rama termasuk keluarga kurang mampu. Rama bisa kuliah di UGM juga karena beasiswa. Uang kirimannya sangat terbatas, bahkan untuk makan sehari-hari saja kurang. Membeli buku adalah sesuatu yang sangat istimewa baginya. Untunglah, Ivan yang orang tuanya relatif berada, mempunyai sepeda onthel yang jarang ia pakai. Sepeda tersebut akhirnya ia berikan pada Rama, karena Ivan sendiri juga membawa motor. Bagi Rama, sepeda sudah lebih dari cukup. Dengan mempunyai sepeda, ia tak perlu mengeluarkan biaya transport ke kampus. Semenjak mengetahui kondisi keluarganya, kami tak pernah lagi meminta Rama untuk ikut urunan biaya listrik dan air bulanan.

**

Sekitar pukul setengah dua belas, kami sampai di Pantai Depok. Hari ini sangat cerah. Hari ini pantai ini terlihat sangat penuh. Kami memutuskan untuk duduk-duduk terlebih dahulu di sisi barat pantai. Kurang lebih selama satu jam kami bermain-main layaknya anak kecil. Bodoh amat dengan komentar orang, yang penting hari ini memang kami gunakan untuk bersenang-senang.

Setelah kelelahan, kami memilih untuk memesan makanan di salah satu warung. Sembari makan, kami membicarakan tentang apa yang terjadi tentang Rama. Jujur saja, aku sendiri merasa risih dan kurang nyaman dengan sikap Rama akhir-akhir ini. Ternyata apa yang kurasakan tak jauh berbeda dengan apa yang dirasakan oleh teman-teman yang lain.

“Beberapa hari yang lalu, sebelum tidur, aku pernah coba tanya pada Rama. Kamu kenapa? Kok kelihatannya murung dan agak pucat?”, ucap Dzakir. “Dia hanya menjawab. Nggak papa kok. Paling-paling cuma maag-ku lagi kumat. Sudahlah gak usah dipikirin. Ntar paling sembuh-sembuh sendiri. Udah ah, aku ngantuk banget.”, lanjut Dzakir.

“Aku juga pernah tanya. Tapi yang gitu itu. Dia nggak ngomong apa-apa. Ditanya baik-baik, eh … dia malah mlengos. Kalau bukan temen sendiri udah aku damprat.”, tambah Ivan.

“Kelihatannya dia punya masalah. Tapi nggak mau ngomong ke kita. Mungkin dia minder atau sudah merasa nggak enak dulu sama kita. Kan semenjak kita tahu kondisi keuangannya, kita nggak pernah minta ke dia uang urunan listrik dan air.”, komentar Ahmad.

“Ya nggak bisa gitu, dong. Temen, ya temen. Kita kan sudah seperti keluarga sendiri. Kalau ada masalah, ya ngomong. Siapa tahu kita bisa bantu. Kayak sama orang lain saja.”, keluh Rifai. “Aku dulu pas waktu nabrak Reta, kan juga ngomong sama kalian. Akhirnya kita urunan untuk biaya rumah sakit Reta.”, tambah Rifai.

“Iya. Tapi kamu untung, kita-kita yang buntung. Kamu yang nabrak orang, kita yang ikutan kena getahnya. Udah gitu, yang ditabrak malah kamu jadiin pacar. Mrongos kita…”, timpal Dzakir. Kami pun tertawa.

Memang pernah pada suatu ketika. Rifai menabrak seorang gadis yang sedang menyeberang. Walau pelan, namun tak ayal membuat gadis tersebut tangannya patah. Karena waktu itu dalam kondisi mendesak, kami akhirnya memutuskan untuk urunan menutupi biaya operasi gadis tersebut. Sampai-sampai pada waktu itu Rama merelakan sebagian besar uang jatah bulanan dari beasiswanya. Memang gadis yang ditabrak Rifai wajahnya cukup manis bagi kebanyakan orang. Dengan alasan agar terlihat bertanggung jawab, Rifai sering menengok gadis yang ditabraknya itu. Gadis itu ternyata karyawati baru Fakultas MIPA dan bernama Reta. Karena sering bertemu, lama kelamaan mereka berdua pun jadian. Kata orang, itu sengsara membawa nikmat.

Pembicaraan kami mengenai Rama pun berlanjut. Sampai akhirnya kami sepakat, malam nanti kami akan menyidangnya beramai-ramai. Terlihat kasar memang, namun apa boleh buat. Hanya itulah alternatif penyelesaian yang tersisa. Tak lupa pula, lima kilogram ikan segar kami bawa sebagai oleh-oleh. Tentu bukan untuk untuk Reta, tetapi untuk Bu Ida, tetangga depan kami sekaligus pemilik rumah yang kami kontrak. Yang selama ini sudah kami anggap seperti ibu sendiri.

**

Bu Ida memang jago masak. Balado ikannya memang dahsyat. Tak terasa dua piring nasi sudah memenuhi perutku. Teman-teman yang lain juga sampai kekenyangan. Tinggal Rama saja yang belum mencicipi balado ikan Bu Ida. Bu Ida hanya senyam-senyum saja melihat kelakuan kami. Kebetulan waktu itu, Bu Ida mengajak kami makan di rumahnya. Beliau juga sempat menanyakan, mengapa Rama nggak ikut makan di tempatnya.

Seusai ngobrol sejenak, kami pun kembali ke kontrakan. Kelihatannya ini adalah waktu yang tepat untuk melaksanakan rencana kami tadi siang. Memang pertama kali Rama terlihat malas sekali, namun karena kami memaksa akhirnya ia mau juga.

“Ma, kita ini berteman walau nggak begitu lama, tapi juga nggak bisa dihitung sebentar. Kita ini sudah seperti keluarga. Masalah satu orang, juga merupakan masalah bagi yang lain. Kita ini saling bantu. Jujur, kami merasa risih dan nggak nyaman dengan sikapmu akhir-akhir ini. Walau kamu masih tetap menjalankan tugas piket harian, tapi bukan hanya itu yang kami minta. Dengan sikpamu selama ini kami merasa semakin nggak nyaman tinggal di sini. Kayak ada orang lain saja yang tinggal di sini. Selama beberapa hari ini, kalau kamu pergi juga nggak pernah bilang kemana, pulang jam berapa. Pulang-pulang juga begitu, masukin sepeda, trus langsung ke kamar, baca buku, nggak keluar-keluar seharian. Keesokan harinya juga begitu, sepulang dari loper koran, mandi, trus plas… ilang entah kemana. Kayak nggak ada orang lain aja di sini.”, buka Rifai.

“Sebenarnya kamu ini kenapa? Ada masalah? Ngomong aja. Siapa tahu kita bisa bantu.”, tambah Ahmad.

Suasana berubah menjadi hening sejenak, Rama hanya bisa terdiam dan tertunduk lesu. Air mata terlihat mulai meleleh di pipinya. Dengan terbata ia menjawab, “Jujur, aku beberapa hari ini instropeksi diri. Aku merasa nggak enak dengan kalian. Selama ini aku nggak pernah ikut urunan bayar listrik dan air. Mungkin bagi kalian nggak papa, tapi aku merasa nggak enak. Trus kemudian beberapa hari yang lalu aku dapat kabar dari rumah. Tahun depan kelihatannya aku nggak bisa bayar kontrakan, karena nggak ada jatah dari orang tuaku. Uang jatah kontrakanku akan dipakai untuk biaya adikku yang mau masuk SMA. Aku bingung harus cari uang darimana untuk bayar uang kontrakan. Uang kiriman ditambah honor loper koran ditambah dengan jatah bulanan dari beasiswaku juga habis untuk makan sehari-hari. Sedangkan honor dari ngirim tulisan ke koran juga nggak tentu. Jujur, aku jadi bingung.”

“Ma, kami semua tahu bagaimana kondisi ekonomi keluargamu. Kami sudah maklum dengan itu. Kalau memang kamu nggak bisa urunan lagi untuk bayar kontrakan tahun depan, ya sudah, nggak papa. Santai aja. Kita-kita nggak keberatan kalau harus menutupi bagianmu. Untuk tahun depan, kamu nggak bisa urunan nggak papa. Kamu tetap tinggal di sini. Ntar bagianmu biar aku yang tanggung.”, timpal Ivan.

“Jujur, Van. Aku makin nggak enak sama kamu. Sepeda yang aku pakai sehari-hari itu juga punyamu. Trus ini ditambah kamu bayarin jatah kontrakanku. Itu uang orang tuamu, bukan uangmu.”, elak Rama.

“Ma, uang itu cuman titipan dari Tuhan. Bukan orang tuaku atau aku yang punya. Kamu nggak usah merasa nggak enak begitu. Toh semenjak tinggal serumah dengan kamu aku juga banyak belajar dari kamu. Bagaimana caranya bisa hidup prihatin dan hidup hemat. Jujur saja, mungkin kalau nggak kenal kamu, mungkin tabunganku nggak akan pernah sebesar seperti sekarang ini. Dulu sewaktu aku SMA, aku boros banget. Sehari aku bisa menghabiskan seratus ribu hanya untuk nongkrong nggak jelas ngapain dengan teman-temanku. Sekarang uang segitu bisa aku buat hidup selama tiga-empat hari. Itu juga karena kamu yang ngajari aku. Mana yang benar-benar kebutuhan, mana yang hanya sekedar keinginan, bagaimana menentukan skala prioritas. Apa yang aku pelajari dari kamu itu, kalau diuangkan nggak bakalan bisa keitung. Toh uang kiriman dari ortuku juga berlebih.”, jawab Ivan.

Pembicaraan kamipun mengalir, terlihat Rama sudah mulai semakin tenang. Rama yang ceria sudah mulai terlihat kembali. Bersahabat bukanlah bisnis, yang bisa dihitung secara matematis, apakah kita untung atau rugi. Persahabatan takkan pernah bisa dihitung dengan uang. Bersahabat adalah hubungan antar manusia yang paling tulus, tanpa pamrih. Dengan sahabatlah kita berbagi suka dan duka, dari sahabatlah kita belajar tentang kehidupan.

Malam itu kami berenam melaluinya dengan nonton bareng pertandingan sepakbola antara Arsenal melawan Tottenham Hotspur, the derby of North London. Untuk kali ini gantian Ahmad dengan Rifai yang bertaruh. Ahmad menjagokan Arsenal sedangkan Rifai merupakan penggemar berat Tottenham. Untuk kali ini, yang kalah bakalan dapat tugas masak untuk sarapan kita besok pagi.


By        :  Rizal Ariffin